Wonogiri- Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Surakarta pada hari Kamis (2/8) pukul 09.00 s.d 11.00 WIB menyambangi para Prajurit dan PNS Kodim 0728/Wonogiri untuk menyosialisasikan cinta mata uang rupiah dengan thema “Cinta Rupaih, Bela Negara Tanpa Senjata”.

 

Hadir dalam sosialisasi ini Dandim 0728/Wonogiri Letkol Inf M. Heri Amrulloh yang sedang melaksanakan dinas diwakili Pasipers Kapten Inf Prahwoto, para perwira staf, Danramil dan para anggota baik militer maupun PNS.

Sambutan Dandim 0728/Wonogiri Letkol Inf M. Heri Amrulloh yang disampaikan Kapten Inf Prahwoto (Pasipers), terima kasih kepada Bank Indonesia (BI) yang telah memberikan soaialisasi dengan tema “Cinta Rupiah, Bela Negara Tanpa Senjata”.

“Semoga anggota akan lebih mengerti apa itu Cinta Rupiah. Selesai menerima sosialisasi yang sudah didapat mari kita sebarluaskan kepada keluarga, saudara dan warga masyarakat di desa binaannya,” jelas Kapten Prahwoto.

Tim sosialisasi Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Surakarta dilakukan oleh Naufal Novaliles Askha dan Widi Asmoro selaku Staf/Kasir.

Sosialisasi ini fokus kepada cikur dan cara memperlakukan uang dengan baik dan benar sebagai wujud mencintai setiap lembar rupiah yang kita pegang. Dalam sosialisasi ini fihak BI juga memberikan sosialisasi mengenai kebanksentralan kepada para peserta. Karena ditengarai saat ini masyarakat dan TNI masih banyak yang belum tahu apa tugas BI sebagai bank sentral dan apa tugas perbankan.

“Sekarang giliran sosialisasi di tingkat Kodim-kodim setelah sebelumnya kami sudah menyambangi Korem, kami sosialisasikan bagaimana mengenal rupiah. Ini ibarat bela negara tanpa senjata,” kata Naufal Novaliles Askha Staf/Kasir BI Kantor Perwakilan Surakarta di sela acara sosialisasi kepada para prajurit Kodim 0728/Wonogiri. Ia mengatakan selama ini TNI merupakan mitra strategis Bank Indonesia dalam menjalankan perannya sebagai bank sentral.

Pada sosialisasi tersebut, rombongan Kantor Perwakilan Surakarta, memaparkan dan mengedukasi para peserta bagaimana cara memperlakukan uang dengan benar. Salah satunya dengan memberikan pemahaman lima jangan, yaitu jangan disteples karena uang yang berlubang dianggap tidak layak edar. Selanjutnya jangan dicoret, jangan dilipat, jangan diremas, dan jangan dibasahi.

Ditambahkan oleh Widi Asmoro, bahwa BI kedepan juga berencana akan melibatkan anggota Bintara Pembina Desa (Babinsa) terkait sosialisasi cinta rupiah ini untuk memberikan pemahaman mengenai 3D (dilihat, diraba, diterawang) kepada masyarakat ditngkat desa, agar masyarakat tidak menjadi korban adanya peredaran uang palsu yang marak ditemukan disetiap daerah.

Pasipers Kapten Inf Prahwoto menambahkan, Bintara Pembina Desa (Babinsa) yang berada wilayah operasionalnya sampai di pelososk-pelosok wilayah bisa menjadi ujung tombak sosialisasi identifikasi rupiah kepada masyarakat secara mandiri, ini juga merupakan upaya membina ketahanan ekonomi wilayah, karena peredaran uang palsu secara langsung akan merugikan pemberdayaan ekonomi masyarakat. (RedG)

Tinggalkan Komentar