oleh

Bebek Pangon Solusi Entaskan Gepeng

MENCARI pekerjaan di tengah pandemi Covid-19 seperti sekarang ini bukanlah perkara mudah. Sebab, di masa pandemi yang sudah setahun lebih melanda Indonesia ini, hampir semua sektor bisnis harus “gulung tikar” akibat dilanda kebangkrutan.

Namun, hidup itu memang tak harus menyerah begitu saja. Karena setiap tekad dan dilandasi kerja keras, pasti akan ada jalan menuju kesuksesan.

Sebut saja usaha yang sedang dilakoni Akhmad Sujadi. Pensiunan pegawai PT. PELNI (Persero) itu sedang sibuk mengembangkan bisnis telor asin bebek pangon yang sedang ia geluti. Ia menamai bisnisnya itu “Mitra Bebek Telor Asin” atau Telor Asin Bebek Pangon yang berlokasi di Bekasi, Jawa Barat.

Tak hanya sekedar berbisnis, namun Akhmad juga memiliki tujuan sosial dibalik usahanya itu, yakni untuk mengentaskan gelandangan, pengemis, pengamen dan pemulung yang atau yang disebut sebagai “Gepeng” yang saat ini turut memadati kota-kota besar, seperti Jakarta dan sebagainya.

Di dalam bisnisnya ini, ia ingin memberdayakan para Gepeng agar bisa menambah penghasilan bagi mereka. Pasalnya, sebagai Gepeng, kehidupan mereka tak menentu dalam penghasilan, makan dan tempat tinggal. “Sebagai Gepeng  mereka terbelunggu tidak bisa melaksanakan ibadah karena keadaan,” ujarnya.

Untuk itu, dengan usahanya ini, Akhmad ingin membantu para Gepeng untuk mendapatkan sedikit tambahan ekonomi dari hasil penjualan telor asin bebek pangon tersebut. “Sebagai solusi mereka kita bantu. Ditampung telornya dan pastikan pembayaran telornya agar mereka tenang,” tutur Akhmad.

Manfaatkan Potensi yang Terabaikan

Awal mula terfikirkan untuk membangun usaha telor bebek pangon atau itik ini ketika Akhmad melihat banyak itik pangon di sawah selepas panen padi berkeliaran begitu saja. Namun, tak pernah ada yang melirik nilai ekonomi dibalik bebek pangon tersebut. “Setelah didekati, pangon bebek atau itik di sawah-sawah pasca panen padi menyimpan potensi besar. Karena pangon bebek menghasilkan ratusan telor setiap hari,” ungkap Akhmad.

Baca Juga  FAO Apresiasi Komitmen Jokowi dan Kemajuan Perhutanan Indonesia

Memang, minat pasar akan telor bebek pangon ini sangat sedikit. Pasalnya, ketika pangon sedang membuahkan telornya hingga ribuan, kadang bingung untuk mencari pasarannya, sehingga orang kurang begitu peduli dengan pangon tersebut.

Agar telor ini punya peminatnya, Akhmad pun membuat telor pangon ini menjadi telor asin atau yang disebut “Telor Asin Bebek Pangon”. “Ratusan, bahkan ribuan telor dari pangon bebek perlu kita tampung dan dijadikan telor asin, sehingga ada kegiatan ekonomi produksi telor asin yang dapat memberikan nilai tambah,” ujarnya.

Apalgi, kata dia, konsumsi telor asin pada masa pendemi Covid-19 saat ini sangat baik untuk menambah imun atau kekebalan tubuh.

Kendati demikian, agar telornya tidak terlalu asin sehingga orang yang mengonsumsinya pun tak menyebabkan darah tinggi, Akhmad mengaku punya metode baru cara membuat kuliner telor asin yang manis, asinnya juga pas dan memberikan gizi yang tinggi. Sehingga enak dijambal atau makan langsung dan juga sebagai lauk.

Proses Produksi Hingga Pemasaran

Dalam proses produksi telor bebek asin ini, diperlukan mencuci, membalur telor dengan adonan garam dan ramuan tertentu  agar telor menjadi asin dan awet serta mengukus telor. Setelah 15 hari disimpan, telur kemudian dibongkar, dicuci dan dites agar kualitas telor terseleksi dengan baik dan layak untuk di konsumsi.

Kemudian telor yang terpilih di kukus selama 4 jam. Saat diturunkan, sebelum dingin telor-telor yang telah di kukus ini dibersihkan ketika masih hangat agar kualitas warna telor bersih. Selnajutnya, telor tersebut kemudian didinginkan.

“Setelah itu, dilakukan seleksi dan pengecekan apakah ada yang retak. Kemudian, telor yang ukurannya besar dipisah sebagai “Telor Super” atau pilihan. “Sementara telor yang retak dikumpulkan untuk diolah menjadi kerupuk telor asin agar tidak ada bahan mubadzir,” urainya.

Baca Juga  Dalam 4 Bulan Terakhir Lebih dari 2 Juta Penduduk Pindah Domisili

Akhmad menargetkan, pemasaran telor asin ini nantinya akan disebar di kota-kota besar, seperti Jakarta, Bandung dan kota-kota yang dekat dengan pusat produksi telor asin. Nantinya, para pemasar cukup mengambil di tempat tertentu daerah tertentu yang sudah ditetapkan setiap telor datang dari daerah produksi.

Para mantan Gepeng pun akan diberikan seragam khusus agar bisa memasarkan telor asin dengan menggunakan sepeda keliling atau mangkal ditempat strategis, atau juga bisa dijual via online. “Yang penting telor yang sudah diambil diusahakan laku dan habis terjual setiap hari,” imbuhnya.

Dengan demikian, upaya meramu potensi pangon bebek, produksi dan pemasaran telur asin ini dapat menjadi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dan dapat membuka lapangan kerjas, erta menjadi solusi bagi pengentasan kemiskinan, pengentasan Gepeng secara permanen. “Bila usaha ini dikelola secara baik, meskipun generasi berganti usaha ini akan tetap ada dan lestari, terus menghidupi mereka yang terlibat,” pungkas Akhmad. (RedG)

Komentar

Tinggalkan Komentar

News Feed