Ilustrasi

Pemalang – Gelaran Hajat Demokrasi nasional dalam Pemilu 2019 sudah hampir dilaksanakan besok tanggal 17 April 2019. Pemilu serentak yang menggabungkan Pemilihan Presiden (Pilpres) dengan pemilihan Legislatif (Pileg) dilaskanakn secara bersama-sama. Dalam pemilu nanti pemilih akan menerima lima surat suara untuk pemilihan Presiden, DPD, DPR RI, DPR Provinsi dan DPRD Kabpaten/kota.

Tentunya semakin dekat hari H maka konstlasi suhu politik di Indonesia semakin naik tajam.  Dalam mengukur seberapa besar dukungan pemilih dalam pemilihan umum nantinya terutama dukungan terhadap salah satu calon pasangan presiden dapat dilihat dengan adanya survai.

Bagaimanapun survai yang lakukan oleh lembaga independent mapun lembaga survai internal sangatlah diperlukan. Dengan adanya survai ini akan terlihat sehingga tim pemenangan calon presiden akan membaca arah dan kebijakan yang akan diambil dalam mengatur strategi dilapangan nantinya.

Bagi calon pemimpin yang bersaing dalam pemilu, survei sangat penting untuk mengetahui seberapa besar peluangnya untuk memenangkan kontestasi politik tersebut. Survei atau polling merupakan salah satu cara yang digunakan untuk mendapatkan gambaran tingkat keterpilihan seorang calon pemimpin di suatu daerah tertentu.

Sejarah Survei Politik

Tidak ada catatan jelas kapan survei atau poll dilakukan pertama kali, khususnya dalam peradaban demokrasi modern. Catatan tertua tentang survei menjelang pemilu adalah yang terjadi di tahun 1824 yang dilakukan oleh The Aru Pennsylvanian di Amerika Serikat. Survei tersebut menyebutkan Andrew Jackson akan memenangkan pilpres melawan John Quincy Adams pada tahun tersebut. Dan saat itu hasil survei sesuai dengan hasil pemilu. Lalu, pada tahun 1916, survei yang lebih menyeluruh dilakukan oleh The Literary Digest, sebuah majalah mingguan di Amerika Serikat.

Sejak tahun tersebut, survei atau poll menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kontestasi politik di negara demokrasi. Saat ini, survei telah berkembang semakin canggih dan modern seturut perkembangan teknologi dan informasi.

Lalu, apa tujuan survei atau poll dilakukan? Yang jelas, survei dilakukan untuk menggambarkan situasi opini masyarakat terhadap calon-calon yang bersaing, peluang untuk meraih kemenangan, serta sebagai strategi bagi calon-calon untuk meningkatkan usaha politik dan kampanye demi mendongkrak perolehan suara. Namun, survei juga seringkali digunakan sebagai alat untuk membentuk opini publik. Tidak jarang pula, survei digunakan untuk menarik orang untuk memilih pasangan yang unggul dalam survei tersebut. Pada titik ini, terjadilah apa yang disebut sebagai Bandwagon Effect.

Bandwagon Effect

Yang disebut Bandwagon effect adalah  efek yang terjadi ketika seseorang melihat popularitas hal tertentu (seseorang) sebagai hal yang harus diikutinya. Bahasa gaul atau anak muda sekarang adalah  ikut trend. Walaupun demikian, bandwagon effect merupakan fenomena psikologis yang jauh lebih kompleks dari sekedar fenomena ikut trend. Fenomena bandwagon effect ditandai dengan adanya kecenderungan seseorang misalnya untuk mengikuti apa yang orang lain pakai karena jumlah orang yang menggunakan hal tersebut semakin banyak.

Contohnya, jika ada klub sepakbola yang mempunyai follower di twitter dan facebook dalam jumlah yang sangat banyak, ada kecenderungan seseorang untuk menjadi fans klub tersebut, lalu membeli segala jenis merchandise yang berhubungan dengan klub tersebut.

Bandwagon sendiri adalah kata dari bahasa Inggris yang berarti kereta atau kendaraan yang mengangkut pemusik atau band. Terminologi ini pertama kali populer dalam politik ketika seorang mantan anggota sirkus bernama Den Rice terjun ke dalam dunia politik pada tahun 1848. Ia kerap menggunakan terminologi ini untuk mengajak orang mendukung dirinya.

Dalam kaitan dengan survei politik, seringkali hasil survei mempengaruhi psikologi pemilih yang akan memberikan suaranya pada saat pemilu. Dengan demikian, menjadi jelas lah tujuan banyak politisi yang membayar konsultan politik, kemudian melakukan survei dan mempublikasikan hasilnya. Tujuannya adalah tentu saja untuk mengejar bandwagon effect ini.

Harapannya, dengan mengunggulkan satu pasangan tertentu, masyarakat akan mendapat gambaran bahwa orang tersebutlah yang menjadi pilihan mayoritas dan bisa ikut didukung. Bandwagon effect ini berdampak cukup signifikan khususnya jika masyarakat mudah berubah pilihan politiknya seturut pilihan banyak orang, yang mana menurut mereka pilihan lebih banyak orang adalah yang terbaik.

Akan tetapi  dalam masyarakat sudah semakin melek dan sadar politik, bandwagon effect yang ingin dikejar bisa menyebabkan akibat yang sebaliknya. Bisa jadi kandidat yang persentasi elektabilitasnya ditekan akan semakin keras berusaha untuk menaikan kembali elektabilitasnya. Selain itu, dalam masyarakat yang sadar politik, hal ini juga akan sulit dilakukan karena orang akan lebih memperhatikan program kerja para kandidat tersebut.

 

Banyaknya Lembaga Survei

Survei Mana yang Harus dipercaya? Pertanyaan tentang survei mana yang harus dipercaya mungkin merupakan pertanyaan yang sulit dinilai jawabannya khususnya bagi orang awam. Pada dasarnya survei adalah perhitungan statistik. Survei juga adalah bagian dari penelitian sosial untuk memperkirakan nilai atau angka dari keseluruhan populasi melalui penelitian pada kelompok yang lebih kecil. Hal yang harus menjadi catatan adalah bahwa setiap survei memiliki metode dan margin of errors atau persentasi ketidaktepatan hasil.

Dengan demikian, cara kita menilai sebuah survei itu benar atau tidak adalah dengan melihat sampling atau tahapan pengambilan sampel, proses, metode pengumpulan datanya dan berapa persen margin of errors. Dengan melihat semua hal tersebut, kita bisa menilai mana lembaga survei yang hasilnya bisa dipercaya atau tidak dan mana yang hasilnya bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Selain itu, kita juga harus melihat rekam jejak survei atau penelitian yang pernah dilakukan oleh lembaga-lembaga bersangkutan, apakah survei dan penelitiannya bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah atau tidak.

Bagi masyarakat awam, mungkin sulit untuk memahami semua hal tersebut karena beberapa lembaga survei seringkali hanya mempublikasikan hasilnya saja tanpa menjelaskan proses yang dijalani. Oleh karena itu, masyarakat tetap harus jeli membaca hasil-hasil survei, melihat lembaga yang mempublikasikannya, serta lembaga yang melakukan survei tersebut.

Berkat Survei  Menang Sebelum Bertarung

 “Was diese Wissenschaft betrifft, Es ist so schwer, den falschen Weg zu meiden”. “Dalam ilmu tertentu, sangat sulit untuk menghindari pemahaman yang salah”, demikianlah kalau penggalan tulisan tersebut diterjemahkan karya Johann W. Von Goethe (1749-1832) seorang penulis dan negarawan Jerman.

Kutipan tersebut ditulis Gothe dalam karya masterpiece-nya yang berjudul: “Faust – Der Tragödie Erster Teil” atau “Tragedi Faust Bagian Pertama”. Apa yang ditulisnya ini menggambarkan bahwa dalam ilmu pengetahuan sekalipun – yang membawa kebenaran di dalamnya – akan sangat sulit untuk menghindari kesalahpahaman. Pada satu titik, ilmu pengetahuan masih akan menyebabkan kesalahpahaman.

Hal demikian pun terjadi pada survei dan penelitian sosial yang merupakan bagian dari ilmu pengetahuan. Akan sangat sulit untuk menghindari bias pemahaman atas hasil-hasil survei tersebut. Survei – dalam konteks apa pun – akan mudah berhubungan dengan pembentukan opini publik – tidak jarang juga membentuk opini kontestan yang bersaing. Mungkin saja kontestan menjadi pesimistis dengan peluang menangnya karena hasil survei. Akibatnya, pilkada akan menjadi sekedar pilkada survei: menang dan kalahnya ditentukan oleh survei.

Sebagai produk ilmu pengetahuan, survei harus bisa menghindari peluang kesalahpahaman tersebut. Hanya saja, berbicara tentang ilmu pengetahuan murni akan sangat sulit jika berhadapan dengan muatan kepentingan lain di dalamnya. Ibaratnya seperti Galileo Galilei (1564-1642) yang ditangkap dan dipenjara karena karya-karya pengetahuannya dianggap mengancam Gereja Kristen saat itu. Seperti Galileo, kredibilitas ilmu pengetahuan hanya bisa dijaga jika berani dipertahankan dan tidak dicemari kepentingan-kepentingan.

Memang, menilai survei mana yang kredibel adalah hal yang gampang-gampang sulit. Tetapi, sebagai bagian dari masyarakat yang sadar politik, kita harus paham tentang keberadaan survei – baik yang benar-benar survei maupun yang sekedar pesanan. Harapannya survei tidak memecah belah masyarakat dan tetap menampilkan wajah politik yang bersahabat. Orang bilang politik itu penuh kepalsuan. “Namun, selama kita tetap menjunjung nilai-nilai hidup dan ilmu pengetahuan, maka kebenaran akan menjadi milik orang-orang yang berteguh hati.” (RedG/Disarikan dari https://pinterpolitik.com/validitas-survei-politik). (Artikel ini diterbitkan di majalah GNews volume 2, maret 2019)

 

 

Tinggalkan Komentar