oleh

Annual International Qolloquium 2024 : Integrasi Modal Spiritual dan Kultivasi Ketahanan Mental yang menjadi Katalisator untuk Mencapai Harmoni Global

Semarang – The Center for Interdisiciplinary Studies on Religion and Culture menggandeng Fakultas Psikologi dan Kesehatan UIN Walisongo Semarang dalam menyelenggarakan acara Annual International Colloquium 2024. Acara dihadiri oleh sekitar 173 audiens pada Jumat (8/3/2024).

Bertempat di Gedung Teater Rektorat, acara ini dibuka oleh perwakilan dari PSIAB oleh beliau Dr. Ferry Mamahit, Ph.D dan dilanjut dengan opening speech oleh Rektor UIN Walisongo, yang diwakili oleh Wakil Rektor 1 Prof. Dr. Muhsin Jamil, M. Ag.

Acara ini juga dihadiri sejumlah pejabat daerah dari perwakilan polda, Pangdam, dan berbagai aktivis kemanusiaan dan perdamaian. Menghadirkan sejumlah narsum luar negeri seperti Dr. Cristopel Joll dari New Zealand, Zachari Muetteries (Australia), Lawrence Chiccarelli (Canada).

Di dunia yang ditandai oleh keragaman pandangan dan perbedaan yang tajam, yang sering berujung pada konflik dan perpecahan ini, the CIRSC 2024 Annual International Colloquium 2024 bertema Beyond the Divine: Spiritual Capital, Mental Resilience, and Global Harmony Across Faith and Cultures bermaksud untuk melakukan eksplorasi yang mendalam terhadap kompleksitas kapital spiritual, ketahanan mental, dan harmoni global. Menyadari pentingnya persatuan dan pemahaman yang mendalam di Tengah kekayaan ragam, iman, dan budaya, kolokium ini berusaha memahami berbagai konektivitas yang mendasari kesejahteraan baik individu maupun kolektif di dalam masyarakat.

Di tengah keberagaman global yang kaya, acara ini ingin menyelami pengalaman kebersamaan manusia yang melampaui batas budaya dan agama dengan tujuan untuk membentuk rasa kesamaan yang dapat berkontribusi pada pengayaan manusia baik secara personal maupun kolektif. Dengan menyadari potensialitas di Tengah konteks keberagaman, kolokium ini bertujuan menyediakan sebuah platform untuk diskusi yang bermanfaat, mendorong peserta untuk menjelajahi bagaimana integrasi modal spiritual dan kultivasi ketahanan mental dapat menjadi katalisator untuk mencapai harmoni global. Acara ini bermaksud untuk menerangi jalan akademis-praktis menuju dunia yang lebih terhubung dan harmonis melalui studi, dialog, dan eksplorasi yang mendalam, di mana nilai-nilai bersama dan pengertian saling mempererat relasi berbagai komunitas iman dan budaya.

Baca Juga  STAINU Temanggung Gelar Wisuda XXIII

Masuk pada keynote speaker oleh Dekan Fakultas Psikologi dan Kesehatan, beliau Prof. Dr. Syamsul Ma’arif, M.Ag menyampaikan bahwa setiap konflik, kekerasan, dan terorisme tidak ada sangkut pautnya dengan nilai religius. Menurut beliau, akar konflik, permusuhan, saling menyalahkan disebabkan oleh nafsu kepentingan duniawi seperti politik, ekonomi, dan kekuasaan. Jalan moderasi adalah hal yang penting menuju saling memahami dan menciptakan persahabatan dengan menitik berat pada poin tawazun (seimbang), ta’adul (adil), dan tasamuh (toleransi).

Tangga acara selanjutnya bersama Ibu Lucky Ade Sessiani, M.Psi mengupas sebuah studi netnografi mengenai paparan konflik Israel-Palestina dan dampaknya terhadap kesehatan mental. Netnografi sendiri merupakan uraian mendalam mengenai fenomena dan pertanyaan penelitian melalui etnografi di internet.

“Salam menunjukkan bahwa kita menghargai orang lain dan mengakui value mereka. Dengan meluangkan waktu untuk menyapa seseorang, kita menegaskan pentingnya orang tersebut dan membangun landasan rasa saling menghormati,” Ujar Bu Lucky.
Beliau menambahkan, berdasarkan penelitian yang dilakukan di jejaring media sosial tiktok, konflik Israel dan Palestina berhasil menarik simpati netizen yang menimbulkan emosi psikologis yang beragam, salah satunya empati, kesedihan, kesalahan, putus asa, amarah, dan religiulitas. “Emosi itu menular dan emosi itu dipelajari,” pungkasnya.

Materi kedua disampaikan oleh beliau, Dr. Christopher M. Joll tentang pendekatan alternatif terhadap konflik muslim di Asia Tenggara, dengan menitikberatkan bahasa bisa menjadi alternatif untuk penyelesaian konflik. Sebagaimana yang terjadi di Negara Thailand, kehidupan di Thailand Selatan yang berdekatan dengan Malaysia dengan indeks penduduk muslim tinggi, secara akses Pendidikan, ekonomi, dan teknologi lebih baik dibandingkan Thailand Utara yang secara geografis berdekatan dengan Kamboja dengan indeks penduduk muslim rendah.

Bersama pemateri ketiga, Dr. Robbert Pope, mengupas bahwa dalam islam unsur-unsur terpenting dalam pembentukan karakter adalah Pendidikan anak-anak, nilai-nilai keagamaan, dan peran keluarga serta komunitas agama yang sangat dominan. Sedangkan, bagi kaum Pentakosta unsur penting pembentukan karakter adalah pembacaan kitab suci secara kognitif, pertobatan batin, dan pimpinan internal dari Tuhan.

Baca Juga  Polrestabes Semarang Berhasil Bekuk Dalang Pelaku Perampokan Uang 561 Juta

Alma, seorang mahasiswi FPK selaku peserta menuturkan, according to me dengan adanya seminar ini dapat memberikan peningkatan ilmu pengetahuan, pengembangan keterampilan, peningkatan ketahanan mental, dan pengembangan hubungan dan komunikasi yang lebih baik. Seminar ini juga dapat berupa peningkatan tingkat keilmuan dalam bidang yang terkait, serta peningkatan tugas kewajiban dalam mengikuti dan mengembangkan ilmu pengetahuan yang lebih baik. There is no kritik and saran because this colloquium overall so good, in terms of mc, moderator, pemateri and peserta nya, when discussion pemateri dan moderator sangat interactive kepada audiens.

Terakhir, harapan disampaikan dari salah satu pemateri, Ibu Lucky Ade Sessiani, M.Psi “Tentunya harapan paling realistis adalah menerbitkan artikel dari research yang saya lakukan, diharapkan juga ada continunity sehingga ada wadah-wadah yang serupa, kegiatan kegiatan yang sama seperti ini atau bahkan dengan skala yang lebih besar dimana kita bisa terlibat disana,” pungkasnya. (RedG/Farah Ghifari dan Ardyaningtyas).

Komentar

Tinggalkan Komentar