Solo-Prof. A.A. Subijanto, MD, M.Sc, Ph.D (Guru Besar Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran UNS) menjelaskan pendidikan itu kalau di kedokteran termasuk profesi, tidak hanya teori tetapi juga praktek. Calon dokter harus bisa menjahit luka, ambil uci – uci, atau bedah tubuh dan lain-lain.

“Disini calon dokter harus bisa akan hal itu. Kalau tidak bisa apa jadinya, karena itu kuliah di kedokteran itu antara teori dan praktek harus seimbang,” tuturnya kepada Ristanto jurnalis lintas media, Selasa lalu, 15 September 2020 usai mengikuti press conferensi peringatn HUT PMI Ke 75 dengan thema Solidaritas untuk Kemanusiaan serta peresmian kampus Politeknik AKBARA Solo.

Lebih lanjut Prof. Subijanto menuturkan hidup hanya sekali maka harus bermanfaat bagi kemanusiaan atau orang lain, tanpa pandang bulu, suku ras dan kekhususan di kedokteran itu harus bisa bukan hanya sekedar tahu. Kedokteran itu ilmu skill,k  jadi harus bisa. Karena itu kuliah di kedokteran tidK ada istilah daring, online. Kalau lewat online bagai kalau ada yang mau melahirkan maupun ambil tumor.

Profesor yang di Politeknik ini sebagai pengawas, dan di PMI Solo sebagai wakil ketua ini bahwa lulusan polteknik ini akan laku keras di pasaran, karena APBD -nya sudah ada.

Prof yang mengaku hidup itu aplikatif dan realistis ini bahwa kuliah di kedokteran itu mesti lama, 6 tahun, karena harus banyak praktek.

Dia lahir 7 November 1948 di Jogjakarta ini sekarang dia berumur 72 tahun. Ia masih aktif berolahraga untuk menjaga kesehatan. Lulusan S1 UNS, S2, YGM, dan S3 Airlangga ini menyatakan bahwa kualitas seorang ibu yang berkarier itu lebih rentan dalam mendidik anak ketimbang ibu rumah tangga.

“Air susu itu sangat baik bagi bayinya ketimbang susu sapi. Karena itu, kebaikan itu harus dijaga,” ungkapnya. (Ris/r)

Tinggalkan Balasan