Semarang- Para produsen awalnya hanya ingin menambah volume luaran produk untuk menambah omzet (hasil) usaha saja. Namun ternyata tidak hanya volume produk semakin meningkat namun biaya yang harus dikeluarkan untuk membeli dan merawat mesin akan lebih murah jika dibandingkan dengan membayar upah pekerja sehingga mereka lebih memilih untuk membeli alat produksi baru dibandingkan menambah upah pekerja.

Melihat kenyataan ini, produsen memilih untuk memperbanyak pembelian mesin produksi dan mengurangi jumlah pekerja secara masive. Yang merasakan dampak terberat dari hal ini tentu saja para pekerja dan keluarga mereka yang menggantungkan hidup dari upah yang mereka terima setiap bulannya.

Remaja di Dusun Kolur, Desa Wonokerto, Kecamatan Bandar, Kabupaten Batang yang tergabung dalam Komunitas Arek- Arek Desa Kolur (Ardeko) ikut rembug dalam mencari solusi di dunia kerja dengan tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Universitas PGRI Semarang (UPGRIS). Permasalahan yang dirasakan oleh remaja Ardeko pada usia 18 sampai 35 tahun tidak bisa melanjutkan di perguruan tinggi selepas lulus SMA.

“Keterbatasan dana keluarga dan akhirnya memilih untuk bekerja di pabrik. Ijazah mereka hanya SMA, maka posisi mereka di pabrik pun tidak cukup bagus. Sebagian besar dari mereka menjadi buruh lepas dengan gaji di bawah UMR, “papar Ketua tim PKM, Dr Ngasbun Egar M Pd, Rabu, (16-9- 2020).

Selain itu, kata Ngabusbun, remaja yang tidak bekerja di pabrik namun memilih profesi lain seperti menjadi buruh bangunan, penyanyi orkes dangdut pantura, atau menjadi PMI (Pekerja Migran Indonesia). Seringkali mereka berat dan lelah karena upah atau gaji yang mereka terima tidak sepadan dengan pekerjaan dan resikonya.

Tim PKM UPGRIS memberikan solusi menghadapi tantangan di dunia kerja. Inovasi yang di tawarkan kepada Komunitas Ardeko (Arek-arek Desa Kolur) adalah memberikan pelatihan dan dikemas dalam bentuk workshop.
“Dari hasil rembug warga bersama anggota Komunitas Ardeko dan tim pengusul, diperoleh data bahwa mereka sebenarnya ingin dapat mandiri secara finansial. Mereka ingin memiliki usaha sendiri yang akan membuat perekonomian kelaurga mereka membaik bahkan menjadi sangat sejahtera, “ungkap Ngasbun.

IPTEKS yang telah ditransfer kepada para mitra PKM disesuaikan dengan kebutuhan yang berdasarkan pada permasalahan yang dihadapi. Tim pengusul berposisi sebagai fasilitator sekaligus pendamping bagi Komunitas ARDEKO.

Hasil rembukan tersebut tim PKM mendapatkan 3 solusi untuk mengatasi permasalahan yang di rasakan oleh remaja Komunitas Ardeko, antara lain, Sosialisasi/PengenalanBMC(Business Model Canvas) untuk semakin mematangkan bentuk-bentuk usaha yang dapat mereka pilih untuk membuat mereka mandiri secara finansial, Pelatihan Business Model Canvas (BMC), Pengemasan Produk dan Pemasarannya, Pendampingan Tim PKM dan BTPN Syariah. (RedG/Dicky Tifani Badi )

Tinggalkan Balasan