Solo – Sewindu Komunitas Sanggit Art Peduli lingkungan bersamaan Indonesia memperingati Hari Radio Nasional setiap tanggal 11 September Keanggotaan komunitas tersebut telah menyebar ke berbagai kota di Indonesia.

“Acara ulang tahun sewindu kilas balik perjalanan baik dengan silaturahmi dan syiar 4 peduli baik agama, manusia, lingkungan dan sistem,” ujar Jatmiko, Pendiri Sanggit Art.

Pendiri Sanggit Art Jatmiko diundang oleh pihak Stasiun Solopos FM News Radio 103 FM live streaming untuk menjadi narasumber di acara Jendela Komunitas dengan Host Antien Kistanti, Sabtu (12/9/20) sore.

“Al Hamdulillah diberi kesempatan dan di jadikan narasumber bersama Ki Agung Sudarwanto MSn, padahal prinsip kami sedikit bicara banyak berkarya,” tutur Jatmiko.

Pandemi Covid-19 berdampak besar pada perekonomian sebagian besar warga Kota Surakarta.

Tak terkecuali bagi para bagi pekerja lepas pra sejahtera yang tidak memiliki pendapatan pasti, seperti abang becak, Ojek dan Tukang Parkir. Untuk meringankan pekerja tersebut dengan berbagi nasi bungkus.

Berbagi nasi kotak di bulan Ramadan menjelang sahur bisa dijadikan momentum untuk meningkatkan ibadah dan ketakwaan. Ada program edukasi sampah, tanam pohon dimulai dari hal kecil dan sederhana. Mulai dari diri sendiri, keluarga dan komunitas masyarakat yang lain.

“Jauh sebelum Covid-19, Peduli manusia gelar wayang lintas agama di Nganjuk. Sanggit dalam dunia pdalangan diyakini sebuah kreatifitas. Dengan adanya sanggit art diharapkan sebagai wadah anak bangsa untuk mengembangkan kreatifitas dibidang seni dan mantap bergotong royong, memperkuat hubungan silaturahmi sesama dan saling toleransi,”ujar pembina Sanggit Art Agung Sudarwanto.

Sanggit art dilambangkan dengan tokoh Bima, mengandung makna bahwa Sanggit Art harus tetap kokoh dalam menghadapi kondisi ataupun situasi jaman. Berbagai strategi kita luncurkan untuk mengemban perkembangan dan kelestarian seni tradisi.

Salah satu yang menjadi motivasi dalam kegiatan sanggit art adalah sebuah hadist “Khairunnas anfa’uhum linnas” sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Dan pedoman bersanggit art ‘Yen wis sagah kudu saguh-jika sanggup harus mampu meyelesaikan.

“Yen Purun kudu wantun, jika mau harus berani. Nilai tanggung jawab terhadap apa yang kita ucapkan dan kita lakukan yang ditanamkan dalm setiap napas dan nupus manusia,” beber ki Agung.

 

Tinggalkan Balasan