Jakarta – Dalam bahasan @pandemictalks dengan tema “Risiko Tinggi Penyebaran Masif COVID-19 di Klaster Tempat Makan” yang ditulis oleh Firdza Radiany, Mutiara Anissa, Muhammad Kamil yang disajikan dengan gaya Infografis sangat menarik dan mengedukasi masyarakat mengenai bermunculannya cluster baru, cluster rumah makan atau restoran.

Firdza, dkk mengemukakan beberapa kasus yang terjadi di rumah makan Indonesia antara lain Warung Soto Lamongan di Yogyakarta. Pada Agustus 2020, ditemukan 10 kasus positif diduga tertular dari penjual soto lamongan. Setelah dilakukan Contact Tracing pada September 2020, jumlah kasus meningkat menjadi 20 kasus positif. Mereka antara lain keluarga, staf dan para pengunjung. Bahkan ada 1 pengunjung yang membeli makanan untuk dibungkus dan dibawa pulang, tetapi tetap terpapar virus (Kompas, 10 September 2020).

Rumah Makan Bu Fat di Semarang. Diawali dari salah satu menantu pemilik rumah makan menderita flu. Kemudian dilakukan swab tes masif terhadap 30 staf dan warga sekitar. Hasilnya, ada 20 yang positif corona. (Kumparan, 11 September 2020)

Rumah Makan Rawon di Probolinggo 15 orang dari 20 staf dinyatakan positif COVID-19 dari klaster Rumah Makan Rawon Nguling Probolinggo. Dua diantaranya meninggal yakni pemilik rumah makan dan anaknya. (Detik, 9 Agustus 2020)

Rumah Makan Pondok Bahrein di Bogor Ada 8 orang positif. Pemiliknya rumah makan tersebut meninggal akibat COVID-19. Tercatat tracing dilakukan kepada 17 orang kontak erat akan klaster ini. (CNN Indonesia, 2 Juli 2020)

Kasus inipun terjadi diluar negeri, berdasarkan studi Centers for Disease Control and Prevention (CDC) dikemukakan banyak pasien covid-19 makan di restoran sebelum sakit.

Studi terbaru CDC di Amerika Serikat menunjukkan orang dewasa yang positif COVID-19, 2 kali lebih besar kemungkinan pernah makan di restoran dalam 14 hari terakhir sebelum sakit, dibandingkan dengan orang yang negatif COVID-19.

Hasil ini didapat setelah CDC menginvestigasi 314 orang dewasa yang dites COVID19 pada Juli lalu karena memiliki gejala (154 dinyatakan positif). Selain makan di restoran, pasien juga dilaporkan pergi ke bar, kedai kopi, atau pusat kebugaran.

Beberapa kasus cluster tempat makan di luar negeri antara lain Kedai Kopi di Paju, Korea Selatan. Sebuah kedai kopi Starbucks di Korea Selatan menjadi cluster super-spreader terbesar setelah 1 orang yang memiliki COVID-19 menularkan ke 56 orang Iainnya dalam waktu 2 jam di ruangan tertutup (Full-AC). Penularan terjadi walaupun jarak antar meja dan kursi diberlakukan. (Chosun Media, 26 Agustus 2020)

Restoran Thailand di Sydney, Australia cluster Super-Spreader Restoran terjadi di Sydney pada bulan Juli, di sebuah restoran setelah seorang staf positif terinfeksi. 2 bulan kemudian, setelah dilakukan contact tracing, diketahui ada 103 kasus virus COVID-19 yang bermula dari tempat tersebut. (ABC, 10 September 2020)

Restoran dan Bar di Lousiana, Maryland & Colorado, Amerika Serikat Di Amerika Serikat, restoran dan bar adalah salah satu titik utama penyebaran COVID-19. Beberapa provinsi di AS menyatakan bahwa : 25% dari kasus COVID-19 di Louisiana (500 orang) dihubungkan kembali kepada Cluster restoran dan bar, sedangkan di Maryland 12% kasus dan 9% kasus di Colorado berawal dari transmisi di tempat makan (NY Times, 18 Agustus 2020)

Lantas apa, yang dimaksud Cluster tempat makan?

Umumnya, penularan dimulai saat satu Penularan virus terjadi ke pengunjung atau staf tanpa sadar pengunjung atau staf tempat memiliki COVID-19 (belum menunjukkan makan lainnya baik melalui gejala atau asimtomatik) ke tempat kontak langsung atau tidak makan dan menularkan orang lain langsung (droplet atau aerosol). Klaster Tempat Makan (Rumah Makan, Restoran, Kedai Kopi, Warung, Bar, dll) terjadi saat satu orang positif COVID-19 menulari pengunjung atau staf tempat makan lainnya.

Menurut Firdza, beberapa alasan tempat makan menjadi cluster berbahaya karena tempat makan bisa menyebabkan minimal 3 cluster baru, yaitu cluster Keluarga Pengunjung, cluster Keluarga Staf Tempat Makan dan cluster Tempat Makan itu sendiri. Tracing kasus lemah, karena pendataan pengunjung tidak dilakukan oleh semua tempat makan. Sehingga tidak bisa dilakukan pelacakan secara menyeluruh potensi penyebaran transmisi virusnya. Pada cluster tempat makan Indonesia, di Yogyakarta pengunjung yang memakai masker dan bahkan pengunjung yang membungkus makanan ke rumah sendiri pun tertular.

Lantas, bagaimana transmisi virus terjadi di cluster tempat makan?

Banyak terlihat ditempat makan, pengunjung tentunya akan melepas masker saat makan dan minum, hal ini membuat kita menjadi rentan terhadap penularan virus; Meletakkan masker yang sudah dipakai di tempat yang terkontaminasi (meja makan); Melakukan aktifitas Iain tanpa masker, seperti mengobrol setelah makan dan minum.

Penularan ini dapat melalui virus yang tertempel di benda, Peralatan (alat-alat masak) dan perabotan (gagang pintu, toilet, dst) yang tidak rutin didisinfektasi oleh pihak tempat makan; Termasuk juga packaging (pembungkus) makanan, uang dan mesin kasir; Penularan virus juga bisa terjadi jika terjadi pertukaran alat makan.

Penerapan Protokol Ventilasi Durasi Jarak (VDJ) yang buruk seperti Ventilasi ruangan buruk, tertutup, full-AC , Durasi makan lama Iebih dari 1-2 jam karena sembari berbincang / meeting ; Jarak antar pengunjung dekat. Tidak diatur batasan jumlah orang dalam tempat makan

Masyarakat bersikap agar tidak tertular?

Usahakan sebaiknya makan di rumah dengan membuat masakan sendiri. Kita lebih bisa mengontrol tingkat kebersihan peralatan memasak dan bahan-bahan makanan di rumah sendiri. Jika Anda bekerja, usahakan bawa bekal makanan dari rumah atau pesan antar online.

Jika memesan makanan via online/drive-thru, usahakan makan makanan tersebut dimakan di rumah (dibawa pulang) atau ditempat yang sepi. Lalu sebaiknya bersihkan dahulu plastik/bungkus makanan dengan cairan disinfektan dan panasi makanan tersebut sebelum dimakan.

Jika akhirnya ada keperluan mendesak sehingga harus makan di tempat makan, sebaiknya : Analisa/asses tingkat risikonya tempat makan yang menerapkan Protokol VDJ dengan ketat. Datang tidak lebih dari 3 orang dan jaga jarak. Jangan bertukar alat makan. Jangan meletakkan masker yang dilepas di meja makan, ganti masker baru, lalu cuci tangan

Bagaimana PemilikTempat Makan Bersikap ?

Menjalankan Protokol VDJ.

Ventilasi : Buka jendela dan pintu rumah makan agar udara segar mengalir. Hindari terdapat ruangan ruangan tertutup tanpa sirkulasi udara yang baik. Misal ruang dapur, gudang makanan atau toilet rumah makan

Durasi : Batasi jumlah pengunjung, misal 50% dari kapasitas setiap 1 jam. Staf Dapur sebaiknya 1 jam sekali keluar ruangan menghirup udara segar. Setiap beberapa jam sekali bersihkan seluruh ruangan dan peralatan dengan cairan disinfektan.

Jarak : Sediakan pembatas yang jelas untuk protokol Jarak. Jarak antar pengunjung diatur 1 kursi, jarak antar meja makan diatur tidak berdekatan. Jarak Staf Dapur bekerja pun agar diatur.

Hal Iainnya yang harus dilakukan pihak Rumah Makan : Berikan peraturan ketat kepada pengunjung dan lakukan
Pendataan Pengunjung untuk Contact Tracing; Edukasi Protokol Kesehatan dan Protokol VDJ ke Staf; Tugaskan salah satu Staf Khusus sebagai Pengontrol Protokol Kesehatan dan VDJ, saat terjadi pelanggaran Staf Khusus ini akan menegur pengunjung atau Staf Iainnya; Segera Iaporkan ke Dinkes setempat jika terdapat kasus positif (RedG)

Tinggalkan Balasan