Pemalang – Gelaran beber wayang dan boyong kereta turanggajati, di Sekretariat Dekranasda Kabupaten Pemalang merupakan tahapan penjamasan benda-benda pusaka milik pemerintah Kabupaten Pemalang.

Beber wayang yang dilakukan minggu (30/8) diiringan musik tradisional siter. Beber wayang diawali dengan Kidung pambuko, Kidung ringgit purwo, Kidung sarirohayu, dan terakhir Kidung sesinggah yang dilantunkan oleh Dalang Ki Muharso, setelah diakhiri dengan doa penutup, barulah peti wayang dibuka, dengan sangat hati-hati, satu persatu wayang – wayang itu kemudian dibeber pada bentangan kawat yang sebelumnya sudah direntangkan di antara dua tiang bambu, selesai beber wayang, acara dilanjutkan dengan mengeluarkan kereta kencana dari tempatnya untuk kemudian dibawa ke garasi rumah dinas Bupati Pemalang yang ditempuh dengan berjalan kaki.

Kepala Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Kabupaten Pemalang, Mualip, yang sejak awal mengikuti acara tersebut mengatakan, beber wayang dan boyong kereta merupakan rangkaian dari kegiatan jamasan yang dilakukan oleh tim. Tim sendiri terdiri dari unsur seniman dan pemerhati seni.

Mualip menuturkan, acara tersebut merupakan salah satu bagian dari amanah yang rutin dilaksanakan setiap tahun bersama jajarannya pada setiap bulan Muharam. Kegiatan  tersebut, seperti yang diharapkan Mualip, mampu menggugah kalangan muda atau kaum melinial agar tidak kehilangan sejarah.

“Karena adanya kita sekarang ini, tidak lepas dari orang – orang kita dulu termasuk peran dan hasil karyanya. Salah satunya adalah benda – benda pusaka yang dimiliki Pemerintah Daerah Kabupaten Pemalang. Sedangkan tanggungjawab atau tugas kita yang muda adalah mempertahankan dan melestarikannya”, tutur Mualip.

Usai memandu acara beber wayang dan boyong kereta, Ki Muharso mengatakan, kegiatan beber wayang rutin dilakukan agar wayang – wayang hasil karya orang – orang Wasis yang tersimpan didalam peti dapat di angin – angini dengan maksud supaya tidak lembab dan tidak ditumbuhi jamur sehingga cat dikulit wayang tidak mudah rusak.

“Karena itu perlu diangin-angini agar bisa mendapatkan cahaya matahari sehingga wayang wayang tersebut tidak mudah rusak”, ujarnya.

“Jamasan Pusaka”

Bupati Pemalang, Dr. H. Junaedi, SH., MM. didampingi istri yang juga Ketua TP.PKK Kabupaten Pemalang, Hj. Irna Setiawati Junaedi, SE., MM. hari ini (31/8/2020) melakukan prosesi jamasan  kereta kencana setompraman dan turonggojati juga benda-benda pusaka milik Pemerintah Kabupaten Pemalang. Acara yang berlangsung di Garasi Rumah Dinas Bupati, dihadiri para Kepala OPD di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Pemalang.

Bupati menyampaikan terimakasih kepada penyelenggara atas dilaksanakannya acara jamasan atau pencucian benda-benda pusaka. Menurut Bupati, acara yang rutin dilaksanakan pada setiap bulan Muharam itu, adalah sebagai bentuk mengejawantahkan kebudayaan yang tentunya harus dilestarikan di negeri ini.

Dalam sambutannya bupati Junaedi mengatakan tidak dapat mengikuti jamasan di tahun depan seperti yang ia lakukan sekarang.

” Hari ini penjamasan pusaka buat saya yang terakhir. Karena jabatan saya kedepan sudah tidak menangi penjamasan di bulan Muharam yang akan datang. Karena 17 Februari saya akan berakhir sesuai dengan tugas yang diberikan kepada saya maka ini adalah penjamasan yang terakhir buat Bupati Pemalang Periode 2016-2021 ” ungkapnya, Senin (31/8)

Dalam kesempatan itu Bupati Junaedi pesan, meski dirinya nanti sudah tidak berada lagi di Pendopo,  pelestarian budaya termasuk tradisi yang ada di Kabupaten Pemalang harapannya bisa diteruskan. Seperti diutarakan Bupati, kegiatan penjamasan kereta dan benda-benda pusaka yang tengah dilakukannya saat itu adalah bagian dari upaya pelestarian kebudayaan adiluhung.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Kabupaten Pemalang, Mualip melaporkan,  Kegiatan jamasan benda pusaka dan kereta kencana, selain bertujuan untuk memelihara dan melestarikan kekayaan budaya jawa yang merupakan bagian dari kekayaan budaya bangsa Indonesia, juga untuk meningkatkan ketahanan budaya dan kontribusi budaya Indonesia, ditengah peradaban dunia melalui perlindungan, pengembangan, pemanfaatan dan pembinaan kebudayaan, termasuk sebagai perwujudan  untuk membersihkan diri dari kebatilan dan keburukan.

Acara dengan menerapkan protokol kesehatan ini diakhiri dengan doa dan pemotongan tumpeng (RedG)

Tinggalkan Balasan