Solo-Lolos ke Babak Final LIDM Kemendikbud 2020, Tim Fourtuna dari mahasiswa Prodi DKV FSRD ISI Surakarta merancang Media Pembelajaran Tata Pentas dan Cahaya Melalui Augmented Reality 3D Proscenium di masa pandemi Covid 19 ini.

Prestasi yang diraih tersebut sangat membanggakan dengan berhasil masuk lolos babak final bersamaan dengan 20 (dua puluh) peserta lain dari wakil perguruan tinggi seluruh Indonesia. Prestasi tahun ini, mengulangi prestasi LIDM Tahun 2019, dimana dengan anggota tim yang sama berhasil menjuarai nomor satu di Divisi II – Kreasi Materi Digital Pendidikan dimana tahun lau diselenggarakan di kampus UNY Yogyakarta.

Kegiatan Lomba Inovasi Digital Mahasiswa (LIDM) Tahun 2020 yang diselengarakan oleh Pusat Prestasi Nasional, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Kegiatan kompetisi tersebut dimaksudkan untuk mendorong terciptanya inovasi dan kreativitas mahasiswa di bidang teknologi digital serta membangun softskill dengan baik. Pada pelaksanaan tahun ini, berdasarkan situasi pandemic COVID-19 di Indonesia, serta hasil pembahasan dengan tim pakar maka kegiatan Lomba Inovasi Digital Mahasiswa (LIDM) dilaksanakan secara daring.

Tim Fourtuna yang ikut di Divisi II – Kreasi Materi Digital Pendidikan yang semuanya dari mahasiswa Prodi DKV FSRD ISI Surakarta (angkatan 2017) yaitu Johan Patar Hutapea, Latifah Azmul Fauzin, Siti Cholifatur Rohmaniah, dan Taufiqur Rahman melalui observasi dalam kegiatan perkuliahan, diketahui bahwa mahasiswa Prodi Seni Teater, Fakultas Seni Pertunjukkan ISI Surakarta mengalami kesulitan yang cukup signifikan di mata kuliah Tata Pentas dan Cahaya (Skenografi) di semester II, dimana faktornya bukan hanya akibat pandemi, namun juga sulitnya memahami ilmu ini tanpa dosen pembimbing.

Rendya Adi Kurniawan, M.Sn sebagai dosen pembimbing dari karya yang diberi judul “3D Proscenium Melalui Augmented Reality Sebagai Media Pembelajaran Skenografi Era New Normal Seni Teater di ISI Surakarta” menjadi solusi. 3D modelling panggung Proscenium diimplementasikan pada buku materi berbasis AR (Augmented Reality), dimaksudkan untuk membantu mahasiswa saat memahami Skenografi, yang juga dilengkapi dengan berbagai penjelasan, buku pandauan ini dapat menjadi solusi untuk menuju belajar merdeka.

Karya ini berangkat melihat kondisi Indonesia tengah masuki fase new normal, namun hal itu belum menyurutkan angka kasus terinfeksi virus Covid-19. Angka tersebut malah kian melonjak, sehingga Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan menghimbau kegiatan pendidikan tetap masih dilaksanakan secara daring. Akan tetapi proses pembelajaran daring ini pun bukan tanpa hambatan.

Johan Patar Hutapea menjelaskan bahwa dalam prosesnya melalui serangkaian wawancara via daring dari dengan ahli skenografi, Feri Ludiyanto, S.Sn., M.Sn yang bertujuan untuk mencari tahu masalah apa yang dihadapi oleh dosen dalam memberi materi perkuliahan skenografi di ISI Surakarta kepada mahasiswa. Selain itu juga menanyakan saran dan masukkan untuk membantu dalam perkuliahan skenografi di era new normal, selain itu juga mengumpulkan aspek apa saja tentang skenografi yang nantinya akan diterapkan dalam karya rancangannya.(red)

Tinggalkan Balasan