Solo – Akhir – akhir ini Kota Solo kerap dijumpai aksi pengerahan massa dari berbagai kelompok dengan beragam tujuan dan kepentingan. Gerakan aksi – aksi ditengah ancaman wabah Covid-19 ini telah memicu sejumlah kekhawatiran. Budaya Kota Solo yang dikenal adi luhung penuh toleransi, makin lama kian luntur tergerus ambisi kepentingan Kelompok, Golongan dan Kepentingan Politik tanpa mempedulikan yang lainnya.

Ditengah wabah, saat ini banyak bermunculan narasi caci maki yang disuarakan dari Kota Solo oleh sejumlah Kelompok beserta Tokoh yang mempengaruhi Kedamaian dan Ketemtraman kehidupan warga solo.

Menyikapi hal tersebut Barisan Solidaritas Masyarakat Untuk Indonesia Damai ( Bima Sakti ) melakukan aksi long march dengan kemasan budaya dari kawasan Ngarsopuro sampai ke Bundaran Gladak, Minggu (30/8) sore.

Aksi tersebut diikuti ribuan orang dari 78 elemen di Kota Solo seperti PKL, pedagang pasar, ormas, budayawan, seniman dan unsur lainnya. Dalam aksi tersebut juga dibacakan 7 pernyataan sikap Bima Sakti terkait keinginan mewujudkan Kota Solo yang aman dan damai.

Koordinator aksi tersebut BRM Kusumo Putro SH,MH mengatakan jika terus dibiarkan maka lambat laun budaya Kota Solo yang sudah dikenal menghargai kebhinnekaan serta kebudayaan ini akan seperti kumpulan masyatakat tak beradab tanpa mengenal etika. Tiap saat warga dipertontonkan dengan aksi – aksi yang cenderung menakutkan dan membuat ketidaknyamanan hidup di kotanya sendiri.

“Warga Solo adalah masyarakat yang penuh kompromi dan toleransi. Terbukti sejak jauh sebelum republik ini berdiri, sudah biasa hidup rukun berdampingan tanpa memandang perbedaan suku, ras dan agama,” ujarnya.

“Namun hal itu seperti sudah jadi masa lalu. Sekarang mulai tumbuh bibit pemahaman lain serta tidak peduli akan kontekstualitas atau hukum, akal dan realitas tidak berjalan beriringan. Ada yang merasa benar sendiri dan memaksakan tafsir dan kehendaknya terhadap setiap kejadian,” lanjutnya.

Oleh karenanya, pihaknya menyeru agar warga Solo bersatu kembali pada inti nilai budaya adi luhung warisan leluhur untuk mengimbangi dan mencegah radikalisme dan sikap intoleran maka perlu dibangun dengan kebudayaan dan kearifan lokal. Kearifan lokal penting untuk digali kembali karena sangat bernilai baik bagi kehidupan warga Solo.

“Kearifan lokal adalah identitas atau kepribadian budaya warga Solo agar mampu menyerap dan mengulas kebudayaan asing sesuai watak dan kemampuan sendiri. Karakteristik budaya lokal di Indonesia khususnya solo sangat mengandung nilai-nilai toleransi, sehingga memberikan edukasi terhadap masyarakat luas untuk saling menghormati, terbuka dan berdialog,” bebernya.

Kusumo menambahkan lunturnya budaya identitas lokal yang terjadi bisa sangat dimungkinkan salah satu faktor pemicunya adalah intoleran dan radikalisme, hal ini meyebabkan kekosongan nilai yang dianut, sehingga paham radikal dan intoleran mengisi kekosongan tersebut.

‘Oleh sebab itu melestarikan dan memperkenalkan budaya dan kearifan lokal sangat diperlukan untuk mengembalikan ruh bangsa ini, yang toleran, menghargai perbedaan dan hidup rukun dengan semangat gotong royong, sehingga menjadi bangsa yang bermartabat dengan budaya lokalnya, berjiwa nasionalisme dengan mengerti ideologi negaranya,” tegasnya.

Kusumo berharap agar warga dari luar Kota Solo tidak melakukan aksi- aksi negatif di Kota Bengawan.

“Kita harus bersatu padu agar bisa memerangi pandemi Covid 19 ini demi mewujudkan Indonesia yang sehat,” tegasnya.( Red)

Tinggalkan Balasan