Semarang- Pandemi Covid-19 tak menyurutkan Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) menggelar wisuda ke-67. Hal ini dikarenakan banyak mahasiswa yang menghendaki diselenggarakan prosesi wisuda. Para mahasiswa serta orang tua sepakat dengan beberapa aturan yang sangat ketat. Penyelenggarapun sesuai dengan anjuran pemerintah yaitu sesuai protokol kesehatan. Kondisi ini memunculkan ide kreatif dari panitia serta koordinasi dengan detail.

Konsep prosesi wisuda UPGRIS tersebut menggunakan sistem drive in dan online. Sekitar 396 mahasiswa mengikuti secara drive in serta 162 mahasiswa mengikuti secara daring atau total sebanyak wisudawan berjumlah 558.

Penyelenggaran wisuda kali ini walaupun tidak seperti biasanya akan tetapi semangat dan rasa bangga bisa dihadiri para wisudawan. Mahasiswa yang mengikuti secara daring dikarenakan jarak rumah jauh dan daerah masih zona merah. Sehingga mereka tetap mendapatkan hak serta layanan yang sama dengan drive in.

Pantauan Gnews. id, kendaaraan datang memasuki area kampus IV UPGRIS langsung disemprot desinfektan.

Peserta wisudawan serta keluarga dicek suhu menggunakan thermal gun, protokol kesehatan sangat diutamakan. Wisuda kali ini prosesnya sederhana. Kendaraan wisudawan ditata rapi dan urut sesuai nomor yang sudah ditetapkan menghadap kampus IV. Setelah rangkaian acara selesai kemudian satu persatu kendaraan mengikuti arahan dari pambawa acara untuk mengikuti wisudawan menerima ijazah dari rektor.

Tidak hanya itu saja, salah satu mahasiswa, Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi (PJKR) Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial dan Keolahrahragaan (FPIPKSR) UPGRIS tersebut membuat cara yang menarik di prosesi wisuda.

Hal ini ditunjukkan oleh Musa Al Murtadha menghadiri prosesi wisudawan dengan cara yang sangat unik dan berbeda dengan wisudawan lainnya. Kendaraan yang dibawanya adalah kendaraan tradisional becak ditemani sang ibu, Tisna Dewi, yang rela datang dari Kabupaten Pati ke kampus IV UPGRIS.

“Saya ingin menandai bahwa sudah saatnya berakhir dengan hal yang menarik, yaitu saya dengan menaiki becak sederhana saja. Pertama bahwa becak itu identik dengan alat transportasi desa, kedua saya berasal dari desa maka dari itu saya menggunakan kendaraan tersebut,” tutur Musa saat ditemui di indekos, Sabtu (29-8-20) sore.

Lebih lanjut, kata Musa, kendaraan becak yang dibawa dalam prosesi wisuda tersebut setidaknya dirinya dapat mewakili anak desa yang tidak mampu melanjutkan perguruan tinggi.

“Hal itu saya berpikir bahwa nantinya kalau saya bawa becak ini mewakili beberapa teman-teman yang dari desa. Bahwa kita yang dari desa itu ada yang tidak bisa untuk menikmati perguruan tinggi dan saya ingin tunjukkan mampu menikmati pendidikan yang lebih tinggi,” ungkap Musa.

Mahasiswa asal pati ini menjelaskan sebelumnya ibu Tisna Dewi berangkat dari Pati menuju Semarang dengan menggunakan kendaraan bus kemudian dirinya menyewa becak di lingkungan kampus dengan merogoh kocek yang murah.

“Saya ambil langsung di pangkalan becak dekat kampus sekitar 250 menter. Harga sewa ini cukup merogoh kocek 50 ribu,” jelasnya.

Harapan Musa, sudah ini menjadi awal bagi saya untuk melangkah lebih nyata karena pembelajaran-pembelajaran sudah saya tempuh dan lalui di tinggi dalam apa namanya perkuliahan maupun organisasi dan dunia yang lebih nyata lagi menanti saya apakah akan berhasil atau tidak itu bergantung dari sebelum-sebelumnya saya harapannya ini menjadi pengingat bagi saya bawa ke depan itu masih ada rintangan-rintangan lagi untuk hal yang lebih nyata.

Sementara itu, Rektor UPGRIS Dr Muhdi, SH,M.Hum menjelaskan ada regulasi baku terkait wisuda drive in kali ini. Acuan utamanya adalah protokol kesehatan Covid-19. Terutama tentang penggunaan masker dan jaga jarak.

“Masa depan kalian tidak akan bersahabat lagi dengan masa kini, apalagi masa lalu. Untuk itu para wisudawan harus terus mengasah diri, membangun pribadi, menjadi pribadi yang kreativ, inovatif, menjawab tantangan zaman. Itulah yang dikehendaki motto UPGRIS “the meaning university”, yaitu menghasilkan lulusan yang mampu mencipta melalui berbagai kreativitas dan inovasi, untuk di persembahkan bagi kemaslahatan negeri. Masa depan membutuhkan manusia dengan karakteristik yang berbeda dengan masa kini apalagi masa lalu, masa depan hanya memberi ruang pada mereka yang adaptif, dan terus mengasah kepribadian. Untuk itu para wisudawan harus terus mengasah karakter dan menjadi pembelajar cepat. Masa depan tidak akan dapat lagi menoleransi generasi yang respon dan kerjanya lambat, apalagi mudah putus asa. Untuk itu saudara dituntut menjadi pribadi yang dapat bekerja dan mengambil keputusan dengan cepat, dan akurat,” ungkap Rektor UPGRIS. (RedG/Dicky Tifani Badi)

Tinggalkan Balasan