Sukoharjo – Sejarah mencatat Keraton Pajang merupakan cikal bakal Dinasti  Mataram. Berawal dari sebuah kerajaan kecil yang konon sudah ada sejak abad ke-14 di bawah kekuasaan Majapahit. Memiliki letak di pinggiran Sungai Bengawan Solo.

Hanya tersisa beberapa peninggalan yang dipercaya merupakan salah satu peninggalan dari Keraton Pajang

Saat ini hanya ditemukan petilasan Keraton Kasultanan Pajang yang terletak di Desa Sanggrahan, Kelurahan Makam Haji, Sukoharjo.

Pada hari-hari tertentu ramai dikunjungi sekelompok orang dari berbagai daerah. Kedatangan mereka yang kerap pada malam hari itu untuk ‘tirakat’ dan mendekatkan diri pada Tuhan Yang Maha Esa.

Salah Satu Pengurus Paguyuban Kasultanan Pajang, R. Dimas Katja sampaikan khususnya bulan Suro dalam penganggaran Jawa.

” Di petilasan ini selalu menggelar ritual ganti songsong (payung) yang digunakan sebagai penutup Yoni, yang dipercaya sebagai salah satu peninggalan Pajang dan ‘mapag Suro’ (menyambut Suro) dan sekaligus peresmian patung Gajah Putih yang merupakan titihan Sultan Hadiwijaya atau jaka tingkir” jelas R Dimas , kamis (27/8)

Pihaknya berupaya ‘nguri-uri’ budaya peninggalan bekas Keraton Sultan Hadiwijaya atau yang lebih dikenal dengan nama Jaka Tingkir yang dianggap ‘sumbernya kraton’ yang ada di Jawa.

Meski di lokasi ini hanya sebagai petilasan, pihaknya bersama pemerhati budaya lain tetap berupaya untuk melestarikan budaya peninggalan kerajaan yang bernilai luhur.

Dalam menyambut pergantian tahun Muharam ini, dilakukan acara penggantian songsong atau payung.

Sebetulnya payung akan dikirab dulu sejauh kurang lebih 3 kilometer yang diiringi sekitar 500 orang dari berbagai lapisan masyarakat.karena masa pandemi tidak diijinkan pihak pemerintah.

“Setelah dikirab, songsong baru akan dipasang dan yang lama akan disimpan,” lanjutnya.

Sementara itu Sekretaris Paguyuban Kasultanan Pajang  Slamet Riyadi sampaikan, selain songsong atau payung beberapa pusaka berupa tombak  biasanya juga akan dikirab mengelilingi beberapa wilayah di Pajang.

Karaton Pajang juga mengadakan Wayangan yang menjadi agenda tahunan.

“Setiap tahun sekali di bulan Suro, atau pertengahan Suro,” lanjutnya.

Ditambahkan Slamet Riyadi, agenda serupa sudah digelar lebih dari 20 tahun lamanya. Dan salah satu tujuan ruwatan, menurut Slamet Riyadi untuk mendoakan agar negara dalam kondisi aman, tentram dan sejahtera.

“Karena dengan budaya ini kita bisa menyatukan semua unsur dan juga perbedaan kultur,” pungkasnya.(*)

Tinggalkan Balasan