Solo-Jabaran dari Tri Dharma Perguruan Tinggi (PT) yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat telah tercermin, terealisasi dan teraplikasi dalam sebuah kinerja dan citra yang realistis. Bukan basa basi, kinerja yang maksimal itu merupakan hal wajib dan harus dipatuhi oleh setiap sumber daya manusia (SDM) yang bekerja dalam suatu instansi. Tugas pokok dan fungsi (tupoksi) adalah bagian dari penjabaran Tri Dharma PT. Dalam perannya sehari hari, STIE AUB Surakarta telah membuktikan diri atas kinerja dan perannya sebagai agen perubahan (agen of change) dalam peradapan urusan pendidikan.

Selain menjalankan pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, sekolah tinggi ilmu ekonomi yang saya pimpin ini telah membuktikan diri atas acuan dari Kemendikbud Dikti yang kesemuanya mengarah pada penataan manajemen serta pelayanan yang baik kepada masyarakat. Levelitas, citra, mutu atau kualitas telah melekat pada lembaga kami.

Seperti apa uraian atas citra yang diberikan oleh pemerintah, berikut dituturkan oleh Dr. Agus Utomo, SE, MM kepada Ristanto, S.Sos, M.Si jurnalis lintas media yang juga pemimpin redaksi majalah DIDIK.

Terkait dengan uraian dan capaian yang nyata, penghargaan atas kinerja yang dilakukan oleh sekolah tinggi ini, patut diinformasikan kepada masyarakat luas. Sehingga dengan capaian tersebut akan mendorong semangat kerja dan menjadi contoh kongkrit yang tidak bisa dipandang dengan sebelah mata.

Dalam kesempatan tersebut, Agus Utomo juga mengaitkan, mengombinasikan serta mengolaborasikan dengan klasterisasi yang selama ini dipatuhi dan dijalankan oleh setiap perguruan tinggi

Lebih lanjut informasi terkait kinerja perguruan tinggi Indonesia kembali diidentifikasi berdasarkan empat aspek utama antara lain mutu sumber daya manusia dan mahasiswa (input), pengelolaan kelembagaan perguruan tinggi (proses), capaian kinerja jangka pendek yang dicapai oleh perguruan tinggi (output), dan capaian kinerja jangka panjang perguruan tinggi (outcome). Akan tetapi, indikator-indikator yang mencerminkan masing-masing komponen utama tersebut terdapat beberapa perubahan/penambahan indikator sehingga diharapkan komponen utama tersebut dapat lebih mencerminkan kondisi perguruan tinggi Indonesia sesuai dengan cakupan pada masing-masing komponen utama tersebut.

Agus Utomo kemukakan, tujuan utama klasterisasi adalah untuk menyediakan landasan bagi pengembangan kebijakan pembangunan, pembinaan perguruan tinggi serta untuk mendorong perguruan tinggi dalam meningkatkan kualitas pelaksanaan Tridharma perguruan tinggi secara berkelanjutan.

Selain itu, klasterisasi perguruan tinggi berfungsi untuk menyediakan informasi kepada masyarakat umum tentang kualitas kinerja perguruan tinggi di Indonesia.Klasterisasi merupakan upaya Dirjen Dikti untuk melakukan pemetaan atas kinerja perguruan tinggi akademik Indonesia yang berada di bawah binaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

“Klasterisasi ini bukanlah pemeringkatan namun pengelompokan perguruan tinggi sesuai dengan level perkembangannya. Mantan komandan Menwa STIE AUB Surakarta ini lebih lanjut menandaskan, dulu namanya pemeringkatan perguruan tinggi.

Lalu banyak perguruan tinggi yang berusaha untuk “meningkatkan” peringkatnya dengan fokus pada indikator-indikator yang telah ditetapkan Dirjen Dikti. Sudah 2 tahun ini namanya sudah tidak pemeringkatan tetapi klasterisasi.

Perguruan tinggi yang “sadar” akan publikasi kuantitatif ini akan terus memacu diri mengejar klaster karena hal ini seolah akan menjadi “kelas” perguruan tinggi yang pada giliran berikutnya akan memengaruhi opini publik tentang kualitasnya.

Terlepas dari semua yang membuat perguruan tinggi “terengah-engah” mengejar klaster, kami mendukung upaya Dirjen Dikti untuk memacu setiap PT untuk terus berbenah. Yang lebih penting adalah Dirjen Dikti harus ambil peran untuk memberikan pembinaan dan dukungan bagi PT yang memang sangat membutuhkan.(ries/r)

Tinggalkan Balasan