Surakarta – “Bali Ndeso” tema Kuliah Kerja Nyata mahasiswa Universitas Slamet Riyadi Surakarta (KKN UNISRI) merupakan salah satu pemberdayaan mahasiswa KKN dilingkungan masing-masing. Pemberdayaan nini antara lain pemanfaatan limbah domestik atau rumah tangga dalam peningkatan ketahanan pangan.

Yusup Nugroho (23) mahasiswa fakultas Pertanian Program Studi Agroteknologi bagian dari KKN kelompok 24, dengan latar belakang pendidikannyamencanangkan pelatihan “Pembuatan Pupuk Cair Organik (POC) Dari Sampah Organik Rumah Tangga Menggunakan EM4” kepada masyarakat di sekitar tempat tinggalnya.

Seperti yang dituturkan ke g-news.id, bahwa sampah merupakan barang atau benda yang dibuang karena tidak terpakai lagi dan sebagainya; kotoran seperti daun, kertas (KBBI). Tiap rumah pasti menghasilkan sampah dari kegiatan memasak didapur, sampah-ssampah basah sisa-sisa potongan sayuran dan buah-buahan ini sebenarnya masih dapat dimanfaaatkan dan dijadikan pupuk sebagai penyubur untuk tanaman. Pembuatan pupuk cair organik ini memanfaatkan sampah basah organik, gula merah, air kelapa, air cucian beras dan EM4 (Efektif Mikro Organisme) yang mengandung bakteri fermentasi Lactobacillus, Actinomycetes, yang menjadikannya ramah lingkungan. Penggunaan pupuk organik cair yang telah difermentasikan nantinya dapat menggatikan pupuk kimia yang banyak beredar dipasaran, kamis (27/8).

Pembuatan POC yang bertempat di Rt 02/Rw 01, kel.Tegalharjo, kec. Jebres, Surakarta, Jawa Tengah dilaksanakan hari Jum’at (14/08) dengan diikuti masyarakat sekitar, Hansip dan Ketua RT 01.

“Tujuan dari kegiatan ini masyarakat dapat manfaatkan sampah basah dan mengomptimalkan menjadikannya pupuk serta mengurangi pembuangan sampah yang ada.“ jelas Yusuf.

Berikut langkah-langkah pembuatan pupuk organik cair (POC) dari sampah organik rumah tangga :

Sampah organik basah contohnya seperti : buah-buahan dan sayuran hijau sebanyak setengah karung beras, kemudian dicincang/dipotong kecil-kecil lalu dimasukan kedalam tong plastik (bekas wadah cat/ember).
Gula merah sebanyak ½ kg yang sudah dilarutkan dengan 1,5 liter air dimasukkan dalam tong plastik.
Selanjutkan masukkan 1 liter air kelapa, dan diikuti dengan 9 liter air cucian beras.
Bakteri (EM4) sebanyak 500 ml ditambahkan ke dalam tong plastik.
Setelah semua bahan dimasukkan kemudian diaduk agar tercampur secara merata.
Tong plastik selanjutnya ditutup kencang dan memasukkan ujung selang penghubung dengan botol berisi air.
Selanjutnya didiamkan dan biarkan fermentasi berlangsung selama 10-14 hari, ampas endapan dari sampah organik rumah yang didalam tong plastik bisa digunakan sebagai bokashi dan cairannya sebagai pupuk organik cair.
Cara penggunaan pupuk organik cair (POC) yang telah difermentasikan dapat dengan cara menyiramkannya langsung ke media tanaman atau menjadi pupuk semprot untuk daun tanaman. Sedangkan, untuk ampas endapan dari fermentasi dapat digunakan sebagai pupuk bokashi dengan cara dicampuran dengan tanah sebagai media tanam untuk tanaman.

“Pembuatan pupuknya ternyata sangat mudah, nantinya ibu-ibu bisa membuatnya sendiri dari potongan sisa sayuran yang dimasak”  kata Ketua RT 01, Wawan.

Kegiatan dilaksanakan dengan peserta terbatas mengingat penyebaran virus masih ada dan mayoritas yang hadir ibu-ibu yang mengasuh anak-anaknya. (RedG)

 

Tinggalkan Balasan