Pemalang – Dampak negatif yang ditimbulkan oleh alat permanen padi (combine harvest) disoal oleh Ulu-ulu vak Kabupaten Pemalang. Sering alat berat permanen padi ini merusak jaringan irigasi, baik yang permanen maupun non permanen.

Hal ini terkuak dalam pertemuan rutin yang digelar oleh Induk Perkumpulan Petani Pemakai Air (IP3A) Dharma Tirta Daerah Irigasi Sungapan bersama 226 Ulu-ulu vak atau Petugas Pembagi Air (PPA). Dalam pertemuan tersebut juga hadir Ketua paguyuban combine harvester se eks Karesidenan Pekalongan Suswanto.

Combine harvest ini merupakan solusi dari semakin langkanya keberadaan tenaga kerja
pertanian, terutama dalam usaha tani padi. Konsekuensi dari adopsi teknologi berdampak pada kinerja ketenagakerjaan dan kelembagaan pertanian setempat.

Diungkapkan ketua Induk Perkumpulan Petani Pemakai Air (IP3A) Dharma Tirta Daerah Irigasi Sungapan Andi Rustono, bahwa pertemuan ini salah satunya mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi arah perubahan penggunaan alat mesin
panen dan perontokan padi serta dampaknya terhadap kelembagaan usaha pertanian padi sawah.

“Hasil kajian menyimpulkan bahwa adopsi teknologi mekanisasi dalam kegiatan panen
lebih efisien baik dari sisi tenaga kerja, biaya maupun waktu. Selain itu juga mengurangi
kehilangan hasil.” kata Andi, Selasa (25/8).

Akan tetapi dampak yang ditimbulkan dengan masuknya peralatan teknologi pertanian, antara lain combine harvest ini adalah menggeser pola kelembagaan penggarapan lahan.
Sebagian buruh tani kehilangan kesempatan kerja, berkurangnya bagian (upah) buruh tani
dalam sistem bawon yang berlaku setempat.

“Dampak pada jaringan irigasi tersier sebagai sarana pendukung utama diarea sawah, banyak terjadi kerusakan saluran jaringan tersier baik yang permanen dan semi permanen. Hal ini yang jadi masalah karena Ulu-ulu jadi tumpuan dari sisi perbaikan. Perbaikan jaringan tersier yang rusak diakibatkan beroperasinya mesin panen padi (Combine) akan jadi
tanggungan ulu-ulu karena menyangkut layanan peningkatan fungsi jaringan irigasi tersier dan layanan irigasi.” kata Andi.

Menanggapi hal ini, ketua paguyuban pengusaha combine se eks Karesidenan Pekalongan, Suswanto berjanji akan kooperatife dalam menanggulangi dampak negatif, terutama kerusakan saluran air.

Suswanto, “siap untuk bekerjasama dalam hal ini.”

Lebih lanjut, para petani melalui PPA mendorong pemerintahan mengeluarkan peraturan bupati Pemalang untuk mengatur combine harvest dari berbagai segi. (RedG).

Tinggalkan Balasan