OPINI 

Oleh : Mohamad Masruri (Kader NU Kab. Pemalang)

Tujuh belas agustus tahun empat lima itulah hari kemerdekaan kita, hari merdeka nusa dan bangsa hari lahirnya bangsa Indonesia, merdeka sekali merdeka tetap merdeka selama hayat masih dikandung badan… lagu itu selalu terasa dan menggelora menjelang peringatan Hari Ulang Tahun kemerdekaan Republik Indonesia, tak terkecuali pada peringatan 17 an tahun 2020 ini, meski kita tahu bersama pada perayaan HUT RI 75 tahun ini kita masih diselimuti pandemi Covid-19 yang tak kunjung hilang dari bumi pertiwi, bahkan catatan di gugus tugas covid-19 Kabupaten Pemalang menunjukan lonjakan yang terkonfirmasi positif covid-19, tak terkecuali jajaran Pemda Kabupaten Pemalang termasuk didalamnya Bupati Pemalang dan sejumlah anggota DPRD Pemalang terpapar covid-19. Sunggu peristiwa yang memilukan bagi seluruh elemen bangsa Indonesia.

Sejarah menorehkan bahwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dilaksanakan pada hari Jumat, 17 Agustus 1945 tahun Masehi, atau tanggal 17 Agustus 2605 menurut tahun Jepang, yang dibacakan oleh Soekarno dengan didampingi oleh Drs. Mohammad Hatta bertempat di sebuah rumah hibah dari Faradj bin Said bin Awadh Martak di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta Pusat. Kata-kata dan deklarasi proklamasi tersebut harus menyeimbangkan kepentingan kepentingan internal Indonesia dan Jepang yang saling bertentangan pada saat itu. Proklamasi tersebut menandai dimulainya perlawanan diplomatik dan bersenjata dari Revolusi Nasional Indonesia, yang berperang melawan pasukan Belanda dan warga sipil pro-Belanda, hingga Belanda secara resmi mengakui kemerdekaan Indonesia pada tahun 1949. Pada tahun 2005, Belanda menyatakan bahwa mereka telah memutuskan untuk menerima secara de facto tanggal 17 Agustus 1945 sebagai tanggal kemerdekaan Indonesia. Namun, pada tanggal 14 September 2011, pengadilan Belanda memutuskan dalam kasus pembantaian Rawagede bahwa Belanda bertanggung jawab karena memiliki tugas untuk mempertahankan penduduknya, yang juga mengindikasikan bahwa daerah tersebut adalah bagian dari Hindia Timur Belanda, bertentangan dengan klaim Indonesia atas 17 Agustus 1945 sebagai tanggal kemerdekaannya. Dalam sebuah wawancara tahun 2013, sejarawan Indonesia Sukotjo, antara lain, meminta pemerintah Belanda untuk secara resmi mengakui tanggal kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Perserikatan Bangsa-Bangsa mengakui tanggal 27 Desember 1949 sebagai tanggal kemerdekaan Indonesia. Naskah Proklamasi ditandatangani oleh Sukarno (yang menuliskan namanya sebagai “Soekarno” menggunakan ortografi Belanda) dan Mohammad Hatta. yang kemudian ditunjuk sebagai presiden dan wakil presiden berturut-turut sehari setelah proklamasi dibacakan.

75 tahun adalah sebuah usia yang sangat matang dan dewasa kalau dinisbatkan manusia. Usia yang sangat senior dan keramat, sejarah mencatat bahwa kemerdekaan bangsa Indonesia diraih dengan penuh perjuangan pengorbanan darah dan nyawa, banyak para Santri, Kyai Pejuang pahlawan dan para syuhada yang gugur dimedan pertempuran karena ingin mempertahankan marwah jatidiri sebagai bangsa yang merdeka, ya hanya satu kata yakni merdeka bebas dari belenggu penjajahan. Merdeka adalah kata yang selalu memotivasi semua pejuang, kita harus merdeka tidak boleh terbelenggu penjajah, merdeka berdaulat atas bangsa sendiri, Menjadi bangsa yang disegani dihormati oleh bangsa lain. Termasuk hari ini pun kita harus bisa mengisi dan mempertahankan kemerdekaan. Merdeka berfikir, belajar, bertindak dan bersikap tidak boleh lagi ada yang membelenggu kemerdekaan kita, bagi generasi muda NU kata-kata ini harus menjadi motivasi sejak zaman dicetuskannya Resolusi Jihad oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari. Tidak boleh lagi ada oknum yang menjajah cara padang dan berfikir kader-kader NU selagi itu berada pada garis kebenaran, kader NU harus berani bangkit melawan segala bentuk intimidasi, provokasi dan penjajahan dalam bentuk kontemporer yang terjadi, demi untuk menjaga marwah dan gerakan NU dalam rangka ikut mengisi dan mempertahankan kemerdekaan Repubik Indonesia.

Tahun ini kita benar-benar hidup dalam keperihatinan mendalam, wabah covid-19 sungguh telah memaksa kita semua menahan diri, bersabar dan tawakal, semua harus kita lukukan bersama-sama sebagai upaya pencegahan dan penghentian menyebarnya virus covid-19 ini dari muka bumi, semua harus bisa menahan diri menahan nafsu demi kepentingan dan keselamatan kita bersama, banyak agenda dan acara penting terpending atau bahkan gagal semua dilakukan demi keselamatan, mulai dari perayaan hari besar keagaamaan, hingga pelaksanaan ibadah haji dan tak terkecuali perayaan HUT RI ke 75 ini dilaksanakan dengan sangat sederhana dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan pencegahan covid-19. Bahkan Presiden Joko Widodo sudah sejak awal menyampaikan kondisi ini sebagai keadaan extraordinary, dalam kondisi seperti ini tidak boleh penerapan kebijakan atau aturan seperti dalam kondisi normal dalam segala hal kebijakan publik, jika terjadi demikian maka seseungguhnya hilanglah nurani dan empati terhadap pencegahan penyebaran covid-19.

Walhasil semoga kita sebagai generasi penerus perjuangan bangsa Indonesia ini mampu menorehkan tinta emas mengisi kemerdekaan yang sudah di raih dengan susah payah oleh para Kyai dan Pahlawan kemerdekaan RI. Semoga bangsa ini benar-benar menjadi bangsa maju yang mampu mensejahterakan seluruh lapisan masyarakatnya dengan penuh rasa keadilaan sesuai dengan cita-cita luhur pada faouding father negeri ini. (RedG/Pemalang, 16 Agustus 2020)

 

Tinggalkan Balasan