Semarang- Fakultas Teknik dan Informatika (FTI) Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) gelar webinar internasional.

Kegiatan yang berlangsung melalui aplikasi zoom, Senin (10/8) di ruang seminar lantai 2 UPGRIS. Narasumber Muhammad Malik MT dari FTI UPGRIS serta Mohd Ibrahim Shapiai PhD MIET MIEEE dari UTM Malaysia.

Kegiatan FTI UPGRIS ini merupakan salah satu rangkaian webinar berkelanjutan. ada 640 peserta yang mengikuti webinar kali ini. Peserta hadir tidak hanya dari Indonesia akan tetapi ada dari negara Amerika, Perancis, Hungaria, Jepang, Malaysia, Turkey, Tunisia, Cheko, serta Iran. Rektor UPGRIS Dr Muhdi SH MHum hadir dalam kegiatan Webinar tersebut.

“Jaringan kerjasama FTI UPGRIS sangat luas sehingga peserta webinar bisa menghadirkan peserta dari berbagai negara. Kegiatan ini merupakan wujud kerjasama UPGRIS dengan UTM. Upaya ini merupakan untuk meningkatkan sumber daya manusia agar lebih maju. Kecanggihan teknologi saat ini menuntut agar manusia bisa beradaptasi dengan cepat. Semoga kegiatan ini mampu menjadikan kerjasama UTM dan UPGRIS lebih solid,” kata Muhdi, Senin (10-8-20).

Pemateri Muhammad Malik MT menyampaikan materi terkait “Control Systems in Agriculture Using Intelligent Wireless Sensor Networks.” Malik menjelaskan dalam memenuhi permintaan makanan dari populasi yang terus meningkat, sangat penting untuk menerapkan teknologi cerdas bidang pertanian. Sekarang kita telah memasuki era baru adalah masa ketika sensor teknologi tinggi, komputasi awan, perangkat lunak khusus, dan Internet of Things diintegrasikan ke dalam pertanian. Di era baru pertanian ini, data menjadi sangat penting.

“Pendekatan pemanfaatan Wireless sensor network yang terintegrasi dengan kecerdasan buatan dan Internet of Things merupakan teknologi alternatif untuk meningkatkan produktivitas pertanian di wilayah yang sangat luas. Wireless sensor network merupakan jaringan nirkabel yang terdiri dari perangkat otonom yang menggunakan sensor untuk memantau kondisi fisik atau lingkungan, seperti suhu, suara, getaran, tekanan, gerakan atau polutan, di lokasi yang berbeda. Jarak jangkau komunikasi yang luas, membuat jaringan sensor nirkabel ini banyak digunakan untuk area yang cakupannya luas sehingga dapat menghemat penggunaan kabel. Hal itu dapat dimanfaatkan untuk pengontrolan suatu lahan pertanian yang mempunyai area cakupan yang luas terutama pada tumbuhan yang menjadi komoditas yang memiliki nilai manfaat. Wireless sensor network dapat menekan biaya dan dapat meminimalkan kesalahan hardware yang disebabkan oleh gangguan transmisi kabel,” tutur Malik.

Dijelaskan Malik, data yang dikumpulkan akan digunakan untuk membantu para petani memanfaatkan tanah, air, dan pupuk mereka dengan lebih efisien. Kecerdasan buatan dan logika fuzzy semakin dipandang sebagai solusi yang mudah untuk diterapkan dalam sistem irigasi cerdas. Teknologi ini dapat mengoptimalkan pasokan air ke tanaman pertanian menggunakan logika fuzzy. Penelitian ini menyoroti penggunaan logika fuzzy yang memecahkan dilema kapan dan bagaimana lama untuk mengairi lahan. Dengan mengambil faktor-faktor yang harus diperhatikan sebelum pengairan diambil sebagai input pada sistem fuzzy i. e. kelembaban tanah, kelembaban relatif, suhu. Masukan ini diberikan ke Sistem Inferensi Fuzzy yang menentukan jumlah sebenarnya dari katup yang dibuka untuk jumlah air yang cukup untuk keluaran yang optimal. (RedG/Dicky Tifani Badi)

Tinggalkan Balasan