Semarang – Tim Gerakan Literasi Ma’arif (GLM) LP Ma’arif PWNU Jawa Tengah melakukan sowan literasi ke sastrawan Semarang Dr. S. Prasetyo Utomo di rumahnya Perum Pandana Merdeka Ngaliyan, Semarang, Selasa (4/8/2020).

Mereka adalah Pimred Maarifnujateng.or.id Hamidulloh Ibda, redaktur esai Junaidi Abdul Munif, redaksi puisi Niam At-Majha, redaktur cerpen Eko Sam dan tim literasi Ma’arif Fikri Sholahudin.

“Kami datang ke sini yang pertama sowan, silaturahmi. Kedua kalinya, kami ingin belajar kepada Pak Pras tentang literasi khususnya bidang sastra,” kata Hamidulloh Ibda mengawali diskusi tersebut.

Ibda menjelaskan, GLM hadir karena kepedulian LP Ma’arif PWNU Jateng di bidang literasi yang muaranya pada tiga karya bahkan lebih. “Mulai dari karya tulis jurnalistik, karya tulis ilmiah, karya sastra, karya digital dalam bentuk video, desain grafis dan yang lain,” beber dosen STAINU Temanggung itu.

Dijelaskannya, GLM dilakukan dengan model pendidikan dan pelatihan, perlombaan, dan penulisan. “Selain website, kami memiliki media sosial, penerbit dan percetakan ASNA Pustaka, Jurnal ASNA, dan Majalah Mopdik,'” beber Direktur ASNA Pustaka tersebut.

Maka, katanya, kami membutuhkan sosok seperti Pak Pras yang sudah memiliki rekam jejak dalam dunia literasi khususnya di bidang sastra yang sudah melalang buana dan mendapatkan banyak penganugerahan.

Sementara Dr. S. Prasetyo Utomo merespon hal itu dengan senang hati. “Dulu saya pernah dilibatkan dalam pelatihan para guru-guru Ma’arif. Jadi ya konsep-konsep literasi ysng saya punya bisa dikembangkan, karena itu juga diterapkan pada mahasiswa UPGRIS yang suka sastra,” beber doktor ilmu sastra jebolan UNNES tersebut.

Sastrawan asli Jogjakarta ini juga menyampaikan banyak pengalaman, kisah, dan ide-idenya tentang literasi dan sastra. “Kalian ini masih muda-muda, gilak benar karena bisa membawa GLM ini dengan memberi apresiasi kepada penulis,” ujar pria yang pernah masuk dalam Cerpen Pilihan Kompas pada tahun 2008, 2009, dan 2010 tersebut.

Coba saja, katanya, buku-buku ini nanti diedarkan ke siswa-siswa sebagai bahan ajar. “Jadi dalam pembelajaran, meski sudah ada buku dan LKS, tapi contoh cerpen misalnya, diambil dari buku-buku terbitan ASNA agar tidak jauh-jauh dan itu produk internal Ma’arif begitu,” demikian usul penulis novel Bidadari Meniti Pelangi yang diterbitkan Penerbit Buku Kompas tersebut.

Penerima Penghargaan Prasidatama 2017 dari Balai Bahasa Jawa Tengah ini juga menceritakan pengalaman dalam menulis cerpen. “Saya menulis cerpen tidak sekali jadi. Ya kerangkanya sudah jadi, baru saya edit. Proses editnya ini yang lama, ada yang seminggu, sepuluh hari, dua bulan bahkan lebih,” tandas peraih Anugerah Kebudayaan 2007 dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata untuk cerpen “Cermin Jiwa”, yang dimuat Kompas, 12 Mei 2007 tersebut.

Selain berdiskusi seputar dunia sastra, ia juga mengapresiasi GLM dan siap mendukung. “Saya sebentar lagi pensiun, jadi nanti banyak waktu untuk diskusi lebih lanjut,” imbuh sastrawan yang pernah mendapatkan Anugerah Acarya Sastra 2015 dari Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa itu.

Tim GLM juga membawa hadiah buku terbitan ASNA Pustaka yaitu Guru Dilarang Mengajar!, Biarkan Anak-anak Kita Mencontek, Sabda Malaikat dan Jurnal Asna yang diberikan kepada Dr. S. Prasetyo Utomo. Ke depan, Tim GLM akan bersinergi dengan beliau untuk memajukan literasi di Jawa Tengah. (RedG/Fikri).

Tinggalkan Balasan