Wonogiri – Pandemi Corona Virus Disease 2019 atau lebih dikenal dengan COVID 19 menimbulkan sejumlah efek bagi kehidupan masyarakat. Kehidupan sosial, ekonomi dan budaya mengalami perubahan akibat adanya virus yang pertama kali ditemukan di Kota Wuhan , Provinsi Hubei, Tiongkok akhir tahun 2019.

Akibat pandemi, roda ekonomi menjadi lesu. Sejumlah permasalahan baru muncul dan memerlukan sebuah kebijakan tepat sasaran dari pemerintah.

Menyikapi hal tersebut, Lembaga Gerak Pemberdayaan (LEGEPE ) bekerjasama dengan Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa, Kependudukan dan Pencatatan Sipil Provinsi Jawa Tengah melakukan survey kajian lapangan terkait kebangkitan ekonomi desa pasca pandemi di 35 kabupaten/kota se Jawa Tengah beberapa waktu lalu.

Perwakilan LEGEPE, Gunawan Wibisono, Rabu (3/6) mengatakan kajian tersebut dilakukan dengan mengambil sample 2 desa di masing-masing kabupaten/kota di Jawa Tengah.

“Ada 5 responden yang mengisi kuesioner, yang terdiri dari petani, pemudik, Usaha Kecil Menengah, nelayan dan pejabat desa setempat,” katanya.

Gunawan menjelaskan hasil dari kajian tersebut akan digunakan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah guna mengambil sebuah kebijakan yang tepat sasaran bagi masyarakat.

“Sebuah policy yang presisi diambil dari data real di lapangan.Pemerintah Provinsi Jawa Tengah akan mengambil kebijakan dari hasil kajian riset tersebut ,” ungkapnya.

Sementara salah satu responden dari Dusun Demangan RT 2 RW 3, Desa Ngunggahan Kecamatan Eromoko, Kabupaten Wonogiri Waginem (60) yang sehari – hari berprofesi sebagai pembuat makanan tradisional rengginang dan karak beras beberapa waktu lalu menjelaskan usahanya kini sepi karena tidak ada permintaan dari para pemudik.

“Tidak ada yang pulang kampung, jadi sepi. Omzet turun lebih dari 50 persen,” tegasnya.

Waginem telah menekuni usaha tersebut lebih dari 20 tahun dan menjadikannya sebagai sumber mata pencaharian utama.

Waginem berharap adanya pendampingan terkait pemasaran dan pelatihan soal pengemasan produk agar mampu menembus pasar di luar desa atau bahkan luar Kecamatan Eromoko.

Sularno (50) salah satu petani dari Dusun Secang Kidul RT 2 RW 3, Desa Ngunggahan, Kecamatan Eromoko mengungkapkan dirinya menggarap lahan pertanian miliknya sendiri seluas 4000 meter persegi.

Ketika panen, dia sebagian menjual hasilnya dalam bentuk gabah. Tergabung di Gabungan Kelompok Tani, dia merasakan manfaat dalam hal mendapatkan pupuk dan jasa simpan pinjam di dalamnya.

Sularno berharap adanya pembangunan saluran irigasi guna meningkatkan hasil panennya. (*)

Tinggalkan Balasan