Ambarawa – Mendapat celetukan guyonan dari Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, tidak membuat Salbiah (35) kehabisan akal. Bahkan jawaban-jawaban yang dilontarkan penjahit masker tersebut berulangkali membuat Ganjar terbahak-bahak. Pertemuan keduanya berlangsung di Javalava, industri garmen kecil di Ambarawa, Rabu (8/4).

Ganjar yang sehabis meninjau penanganan COVID-19 di Desa Lerep Kabupaten Semarang, langsung meluncur ke Ambarawa. Sebelum Corona menyerang, Javalava banyak memproduksi baju, kaus hingga jaket.

“Sekarang bikin apa, Bu?,” Tanya Ganjar pada Salbiah, salah satu penjahit Javalava.

“Sekarang bikin masker, Pak. Buat penutup mulut. Biasanya juga menjahit katok bolong, pak,” kata Salbiah yang membuat Ganjar tertawa.

Ganjar pun mencoba mengulik obrolan lebih dalam dengan Salbiah tentang pekerjaan barunya itu. Maklum, baru satu sekitar satu Minggu dia beralih keterampilan, dari kebiasaannya menjahit baju menjadi penjahit masker.

“Setelah dibikin, maskernya buat apa?” Kata Ganjar.

“Ya dijual lah pak. Tapi menjual kan bukan urusan saya, pak,” kata Salbiah yang kembali membuat Ganjar terbahak-bahak.

Meski mendapat candaan, Ganjar justru mengakui kinerja Salbiah. Dia bekerja dari pukul delapan pagi hingga setengah lima sore dan mendapat satu jam istirahat. Dalam rentan waktu tersebut, Ganjar mengatakan, Salbiah mampu menghasilkan 100 masker setiap hari. Mengetahui hal tersebut, Ganjar kembali melontar tanya pada Salbiah, kali ini tentang jumlah gaji yang diterima. Tapi yang ditanya, justru malah tertawa.

“Hahahaha. Tidak tahu pak gajinya berapa. Soalnya belum gajian. Kerja baru satu Minggu.” Sontak saja kalimat tersebut membuat keduanya tertawa.
Yunus, pemilik Javalava menjelaskan, dirinya terpaksa banting setir jadi produsen APD setelah usahanya membuat kaus, baju dan jaket kian sepi pesanan. Selain masker, dia juga memproduksi coverall.

“Untuk masker sekarang satu hari bisa memproduksi seribu masker. Pekerjanya masih yang dulu, agar tetap mendapat penghasilan,” katanya.

Selain menjual, dia juga menyumbangkan maskernya ke seluruh penjuru tanah air. Berproduksi selama satu Minggu, sudah sekitar 6.000 masker dia sumbangkan.

“Targetnya kami menyumbangkan 20.000 masker. Kami mengirimnya ke Puskesmas, dan diteruskan ke masyarakat,” katanya.

Langkah Yunus tersebut mendapat apresiasi dari Ganjar Pranowo. Di saat semua orang memerlukan masker, kreativitas pengusaha akhirnya bisa memberi jalan keluar.

“Sebut saja masker yang dia sumbangkan itu adalah bentuk CSR-nya. Ada kemanusiaannya yang diberikan. Kita minta industri tekstil tidak menaikkan harga kain. Agar bisa menolong,” katanya. (sumber PDI Perjuangan)

Tinggalkan Balasan