RAPID TEST - Test awal untuk skrening Covid-19
Pemalang – Apa sih beda  Rapid Test sama Reverse Transcriptase-Polymerase Chain Reaction (RT-PCR)  dalam pengujian sample terpapar virus corona? Lebih akurat mana, biar yakin kena Covid atau tidak, dll
Dalam bahasa sederhananya, beda Rapid Test dengan RT PCR, kalau Rapid Test yang diukur adalah reaksi imunologi antigen antibodi seseorang. Teorinya kalau ada antigen (virus, bakteri, jamur patogen) maka tubuh akan bereaksi dan membentuk antibodi guna menghancurkan antigen yang masuk. Sedangkan Rapid Test ini akan mengukur /mendeteksi apakah antibodi tersebut sudah terbentuk atau belum, kalau hasilnya negatif berarti antibodi belum terbentuk sehingga kesimpulannya antigen (virus)nya belum ada, belum menginfeksi atau sudah ada namun masih dalam masa-masa awal inkubasi sehingga reaksi imunologi belum optimal. Kalau hasilnya positif berarti antibodi sudah terbentuk berarti virusnya “pernah” masuk ke dalam tubuh, tapi masih adakah virusnya dalam tubuh harus diuji keberadaannya biasanya dengan RT PCR.RT PCR merupakan satu metode untuk memperbanyak replikasi DNA secara enzimatik tanpa menggunakan organisme, sederhananya RT PCR ini untuk melihat ada tidaknya virus dalam tubuh penderita, jadi RT PCR lebih akurat daripada Rapid Test, namun lebih rumit, lebih lama, lebih mahal dan membutuhkan operator yang lebih terlatih. Operatornya pun juga lebih beresiko karena langsung berhadapan dengan sampel yang infectious.

“Pakai  Rapid Test atau RT PCR untuk mendeteksi Covid-19”

Jawabannya tergantung tujuan dan sejauh apa kondisi penderita.

Rapid Test bagus untuk skrining awal namun kurang tepat kalau digunakan untuk random test atau test untuk orang yang masih sehat (tidak menampakkan gejala-gejala awal penyakit). karena hasilnya bisa false negatif.

Idealnya Rapid Test dipergunakan untuk orang yang sudah menampakkan gejala awal minimal 3 hari, sebaiknya 4-5 hari,  andaikata antigennya benar Covid-19 maka antibody untuk Covid-19 nya sudah terbentuk dan hasilnya benar-benar positif. Andai negatif maka benar-benar yang membuat gejala-gejala symptom penyakit itu bukan virus Covid-19, tapi bisa virus/bakteri patogen lainnya.

Untuk orang yang tidak menampakkan gejala sebaiknya diam dirumah saja tidak perlu mencoba Rapid Test, kalau mulai nggreges-greges, sumeng tunggu 3-5 hari baru minta di rapid test. kalau hasil negatif lanjutkan diam di rumahnya. kalau hasilnya Positif jangan panik, langsung lapor satgas Covid-19 atau ke hotline 119 ext 9 minta di swab test untuk RT PCR.

“Hasil RT PCR bisa negatif bisa positif walau rapid test-nya positif”

Kalau RT PCR hasilnya positif sudah jelas anda tertular Covid-19 dan virusnya masih aktif di dalam tubuh, kalau gejalanya parah pasti akan di isolasi di rumah sakit tapi kalau tidak begitu parah bisa isolasi mandiri di rumah dengan pemantauan ketat dari nakes.

Kalau hasil RT PCR negatif maka ada 2 kemungkinan, satu ada kesalahan pembacaan/prosedur PCR-nya karena PCR ini sangat rawan kontaminasi, jadi hasilnya yang seharusnya positif jadinya negatif, test biasanya akan diulang lagi. Kemungkinan ke dua dan ini sebetulnya berita baik, virusnya sudah tidak ada tapi tubuh sudah memiliki antibody-nya (herd immunity), jadi ada kemungkinan kita sudah tertular Covid-19 tapi tanpa gejala, hanya seperti  flu bahkan ada yang tetap sehat, ini biasa juga disebut Carrier Covid-19. Jadi untuk kasus ini penderita akan disuruh pulang karena dia sudah tidak membawa dan tidak menularkan Covid-19 lagi.

Pada kasus  sembuh  Covid-19, tetapi bisa tertular kembali atau re infeksi, ternyata kasusnya jarang sekali.  ada sekali di Jepang dan di China.

Harusnya kalau tubuh sudah memiliki antibodi kalau ada virus Covid-19 masuk akan bisa dikenali dan dihajar habis sama antibodi tubuh. Tapi harus diiingat tidak tertutup kemungkin virus ini punya strain-strain lain karena Covid ini merupakan Virus RNA yang sangat mudah bermutasi. Seperti halnya virus Influensa yang juga bisa terkena berkali-kali karena strain flu ini banyak sekali. Tapi seharusnya infeksi ke dua dan selanjutnya tidak separah infeksi pertama dan yang terpenting sistem imun tubuh kita, daya tahan tubuh kita selalu terjaga dengan baik.

Terpenting buat kita jangan terlalu panik, ikuti saja himbauan pemerintah untuk diam di rumah dan hindari kerumunan. Pola hidup bersih harus makin ditingkatkan, selalu cuci tangan dengan sabun, jangan khawatir kalau gak ada hand sanitizer, air sabun lebih bagus kok dari hand sanitizer, kalau harus keluar rumah hindari kerumunan dan selalu physical distancing, jaga jarak, sampai rumah ganti pakaian, cuci dan langsung mandi, selalu makan makanan yang bergizi, ada buah dan sayuran terutama yg banyak mengandung vitamin C. Minum vitamin C dan suplemen multi vitamin juga bagus, mau minum-minun herbal atau jamu boleh saja, yang penting selalu di bikin happy agar imun tubuh tidak menurun.(RedG)

Tinggalkan Balasan