Teater Gema sedang berlatih mempersiapkan  kompetisi  Art and Sport Appreciation by Economic and Business Faculty of UNS (ATEFAC).Teater Gema ikut dalam kategori kompetisi 'Monolog' tingkat Nasional, yang akan diadakan di tanggal 10 -11 Maret 2020.

Semarang- Tim Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM)  Teater Gema sulap Selasar kantin Gedung B (GB) Universitas PGRI Semarang(UPGRIS) tidak hanya tempat Kongkow melainkan tempat pementasan monolog.

Lampu halogen warna warni  sudah menyala dan penonton siap menyaksikan pertunjukan  dengan suasana hening.

Hal itu, Teater Gema tidak sedang ada pementasan seperti biasa, tetapi Teater Gema sedang berlatih mempersiapkan  kompetisi  Art and Sport Appreciation by Economic and Business Faculty of UNS (ATEFAC).Teater Gema ikut dalam kategori kompetisi ‘Monolog’ tingkat Nasional, yang akan diadakan di tanggal 10 -11 Maret 2020.

Proses yang dijalani teater gema sudah tiga bulan berlangsung, berawal dari proses awal hingga proses akhir.

“Awal dari proses adalah pemilihan naskah dari ketentuan penyelenggara kompetisi artefac,  teater gema memilih naskah yang berjudul ‘Inggit’ dan naskah itu masuk dalam kategori kompetisi. Proses yang kedua ialah pemilihan aktor dan proses terakhir berlatih setiap hari , ” Ujar Maslahatul Islami selaku sutradara, Jum’aat malam, (28/02).

Maslahatul menambahkan, dalam pemilihan aktor monolog yang terpilih dalam seleksi kami (teater gema;red) adalah Ersa yang merupakan anggota teater gema berasal dari jurusan Bahasa Indonesia semester 4.

Generasi di era milineal saat ini memperkenalkan tokoh-tokoh daerah atau nasional bisa disalurkan lewat kesenian. Dalam pemilihan naskah, tim dan sutradara juga membutuhkan alasan dan tujuan yang tepat.

“Kisah Inggit juga harus diperkenalkan  ke publik, apalagi generasi sekarang belum tau kisah inggit,  saya dan tim memilih naskah ini yang memiliki cerita yang bagus dan dapat motivasi generasi sekarang, ” Maslahatul sering disapa Atoel Lawak.

Atoel Lawak menceritakan naskah “Inggit” karya Ahdaimran,  dia (Inggit;red) seorang kembang desa dan penari ronggeng dari Kamasan, Bandung, seperti saya baca dibuku biografi ‘Inggit’. Nama Inggit juga lagi gencar-gencarnya untuk nama jalan di daerahnya akan tetapi belum tercatat dalam pahlawan nasional.

Harapan dari Atoel Lawak, Teater Gema dapat menyabet Juara kembali di  Artefac UNS dan kami siap bersaing di kompetisi ini. (RedG/Diki)

Tinggalkan Balasan