Surakarta -Yudha Ariyanto, mahasiswa Prodi Desain Komunikasi Visual, FSRD, Institut Seni Indonesia Surakarta (angkatan 2017), melaunching komiknya berjudul “Garudea” pada Festival Garuda yang diselenggarakan di Lapangan Garuda Mandala kompleks Candi Prambanan pada tanggal 8-11 Februari 2020.

Selain komik dipamerkan, juga dilakukan diskusi Bedah Komik pada tanggal 10 Februari 2020 yang diselenggarakan oleh Rumah Garuda bekerjasama dengan Mataya Art Heritage, selain itu juga dilelang edisi terbatas yang laku senilai Rp. 200.000,- untuk satu eksemplar komik.

Asmoro Nurhadi Panindias, S.Sn., M.Sn. (Kaprodi DKV) , Selasa (11/2) mengatakan Yudha Ariyanto berkolaborasi dengan Teguh AA (Teguh Arik Ardiansah) yang sesama berasal dari Mojokerto Jawa Timur, Yudha sebagai colloring dan layout, sedangkan Teguh sebagai illustrator.

“Karya komik yang dipamerkan berukuran 1 x 21 m diwujudkan dengan materi berupa mmt ini oleh kedua komikus mengangkat cerita Garudea yang dikisahkan dalam Kitab Adiparwa ke dalam komik. Kitab tersebut berasal dari akhir Abad 10 Masehi, di zaman Darmawangsa Teguh, maharadja negara Indonesia besar,” ujarnya.

Dikatakannya, cerita Garudea menceritakan sang Winata dan sang Kadru bertaruhan atas kuda Uccaikcrawa yang menyebabkan sang Winata menjadi budak sang Kadru, dan akhirnya dibebaskan oleh sang Garuda (anaknya) dengan Amerta sebagai syaratnya, diceritakan pula sebab-musababnya ular mempunyai lidah bercabang dan sang Garuda menjadi kendaraan Betara Wisnu.

“Cerita heroik yang mengangkat tema pembebasan dan kepahlawanan ini yang diangkat oleh komikus muda, yaitu Yudha Ariyanto dan Teguh AA ke dalam bentuk komik sesuai dengan perspektifnya,” ungkapnya.

Kedua komikus akrab dengan cerita itu, karena di Mojokerto banyak dijumpai warisan kebudayaan Indonesia-Hindu zaman Majapahit, berupa patung Garuda dari Candi Minakjinggo dan Candi Belahan, serta relief Garudea yang terpahat di dinding Candi Arimbi dan Candi Kesimantengah. Lingkungan tersebut menjadi spirit bagi untuk memvisualkan kisah Garudea dalam bentuk komik. Selain itu, secara konsep dan teknis, keduanya dibimbing oleh Ranang Agung Sugihartono (Dosen FSRD ISI Surakarta) dan Arif Setiawan (Penggiat Seni di Mojokerto).

Lebih lanjut dikatakannya, pengalaman empiris sang komikus tentang suasana lereng gunung yang dihijaukan oleh hutan lebat di lereng tiga gunung: Penanggungan – Anjasmoro – Arjuno, yang sering mereka lewati ketika melintas jalanan dari Pacet menuju Trawas, tampak tersirat dalam komik ini. Pose Garuda yang sedang memegang kendi Amerta dan pose Garuda sedang terbang dalam komik ini mengingatkan pada patung Garuda dari Candi Minakjinggo yang dikoleksi oleh Museum Majapahit, yang dalam catatan Belanda disebut arca Mahakala atau Bairawa. Posenya menghadap frontal dengan sayap mengepak lebar.

“Kelahiran komikus muda dari Prodi DKV FSRD ISI Surakarta ini, diharapkan mampu mengikuti jejak komikus Teguh Santosa, karena ilustrasi komik Garudea ini tampak juga bermain blok-blok pekat yang berdimensi dan berkarakter kuat sebagaimana pada komik-komik Tegus Santosa. Meskipun begitu, keduanya perlu tetap menyerap energi dan spirit Majapahit yang telah diwariskan dan dengan mudah dijumpai baik artefak, candi, kitab, alam, maupun atmosfirnya di tlatah Mojokerto saat ini, sebagai modal untuk menemukan karakteristik komik-komiknya,” tegasnya.(red)