Surakarta – Solo Photography Festival#6 merupakan sebuah perhelatan fotografi tahunan yang diadakan oleh Prodi Fotografi ISI Surakarta.Acara tersebut merupakan implementasi dari hari jadi Prodi Fotografi pada tanggal 9 November. Dalam ajang bertaraf nasional tersebut, Solo Photo Festival#6 kali ini memiliki tema CHAOS yang didasari oleh beberapa hal yang berkaitan dengan kondisi fotografi saat ini, di mana dunia digital yang semakin meluas dan berdampak sangat tinggi bagi para pengguna kamera digital baik pehobi maupun masyarakat umum, sementara di sisi lain ada sebuah pergerakan yang semakin meluas berkaitan dengan eksplorasi dan eksperimentasi fotografi yang selalu mengarah pada sebuah pertanyaan tentang batasan fotografi.

“Solo Photo Festiva#6 berlangsung
Sabtu – Senin, 9 – 11 November 2019 Gedung Galeri Kampus 2 FSRD ISI Surakarta Jl. Ringroad Km 5.5 Mojosongo, Jebres, Surakarta. 57127,” ujar Anin Astiti M.Sn., Dosen Prodi Fotografi ISI Surakarta, Dosen Pendamping SPF 2019, Minggu ( 10/11).

Dia mengatakan CHAOS dengan makna konotatif yang melekat sebagai sesuatu kondisi yang dipandang buruk, diapresiasi sebagai sebuah pancingan untuk dapat memberikan jawaban bahwa dalam keburukan tersebut akan muncul sebuah pandangan lain secara positif yang dapat diaplikasikan melalui tema menyeluruh di setiap rangkaian acara.

“Berdasarkan tema tersebut, maka tentu saja diperlukan pertimbangan yang matang dalam melakukan pemilihan materi yang akan disajikan baik dalam workshop maupun diskusi panel. Melalui tema CHAOS, materi berkaitan dengan eksplorasi dan ekperimentasi serta pewacanaan fotografi di era digital saat ini menjadi hal yang menarik untuk dapat disampaikan,” ulasnya.

Menurutnya, dengan adanya kegiatan Solo Photo Festival#6 ini, diharapkan bahwa akan terjalinnya hubungan yang baik antar pelaku fotografi serta bertambahnya dinamika dan wacana fotografi di Indonesia, serta Surakarta khususnya.

“Fotografi yang sampai hari ini menunjukkan perkembangan yang sangat pesat, tampak dari semakin banyaknya bidang fotografi yang diminati banyak masyarakat serta makin canggihnya teknologi yang ada pada kamera, merupakan sebuah kondisi yang sangat signifikan. Pemahaman wacana menjadi sebuah hal penting sebagai landasan serta pola berpikir yang harus ada pada setiap individu yang bergerak di bidang fotografi. Dalam kegiatan ini, akan diadakan sebuah diskusi Panel dengan beberapa panelis (pembicara) yang berkompeten di bidangnya. Hal tersebut didasari pada kepentingan Fotografi dalam melihat perkembangan fotografi yang dapat dimungkinkan untuk dilakukan,” ungkapnya.

Peserta pameran dari asosiasi (ISI Yogyakarta, ISI Denpasar, ISI Padang Panjang, ISI Surakarta, Polimedia Jakarta, Universitas Trisakti Jakarta dan Universitas Pasundan Bandung dan serta hasil dari seleksi aplikasi open submission dari masyarakat umum (dipilih sebanyak 20- 30 karya foto). Seleksi dari open submission akan dilakukan oleh tim dari PannaFoto Institute Jakarta bersama Prodi Fotografi ISI Surakarta.( RedG )

Tinggalkan Komentar