Semarang – Tim PKM STIKES Hakli Semarang yang terdiri atas Reyno Pramudyono Widyasmara selaku ketua pengusul program dan Moch. Abdul Mukid S.Si, M.Si selaku penanggung jawab pengimplementasian teknologi pengolahan pangan kepada mitra dengan menciptakan alat pengering dan peniris minyak otomatis untuk meningkatkan produksi kerupuk rambak kulit pada UKM kerupuk rambak kulit kerbau Cipta Rasa di Desa Penanggulan.

Memiliki 5 orang karyawan, UKM Kerupuk Rambak Kulit Kerbau Cipta Rasa Desa Penanggulan mampu memproduksi 5 kg kerupuk rambak kulit kerbau per harinya. Namun, produksi kerupuk rambak kulit kerbau ini masih sangat terbatas baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya. Teknologi proses produksi kerupuk rambak kulit kerbau yang bersifat konvensional, peralatan masih sederhana dan juga kemampuan sumber daya manusia yang terbatas menjadi penyebab UKM Cipta Rasa tidak dapat memenuhi permintaan pasar.

Masalah utama pada UKM Kerupuk Rambak Kulit Kerbau Cipta Rasa adalah peralatan yang digunakan masih sangat sederhana, terutama alat untuk menghilangkan minyak pada kerupuk yang telah dimasak. Penggunakan kertas minyak sebagai alat peniris atau penghilang minyak setelah digoreng dinilai tidak efektif dan dapat menyebabkan cepatnya proses ketengikan pada kerupuk dan pemanfaatan sinar matahari untuk mengeringkan kerupuk juga menjadi masalah pada UKM kerupuk rambak kulit kerbau Cipta Rasa dalam memenuhi permintaan pasar.

Dua permasalahan utama yang terjadi pada UKM Cipta Rasa mendorong tim untuk meningkatkan produktifitas, program pengabdian kepada masyarakat yang di danai oleh DRPM Kemenristekdikti ini menerapkan otomasi produksi dengan menggunakan alat mesin pengering otomatis dan alat spinner untuk meniriskan minyak hasil penggorengan kerupuk rambak kulit kerbau UKM Cipta Rasa.

Alat mesin pengering kulit kerbau mekanis otomatis hasil desain dan pabrikasi dapat mengeringkan dengan kapasitas 10 kg tiap 8 menit akan dioperasikan di UKM Kerupuk Rambak Cipta Rasa yang memproduksi kerupuk rambak kulit kerbau pada kapasitas terpasang 1 ton / 6 bulan (140 bal @ Rp.15.000,-).

Proses produksi ini akan dimonitor oleh pelaksanaan program untuk mengidentifikasi hambatan-hambatan selama pengeoperasian. Selain itu, unjuk kerja alat ini juga selalu dimonitor dengan indikator: kualitas produk kerupuk rambak (kerenyahan), kecepatan proses alat mesin pengering mekanis otomotis untuk mengeringkan kulit kerbau, kapasitas yang dapat diproduksi per hari, serta biaya operasional untuk proses produksi.

Selain menciptakan produk yang lebih higeinis, dengan adanya alat pengering dan peniris minyak otomatis diharapkan proses lebih efisien dan produktivitas meningkat diikuti peningkatan keuntungan lebih dari 80%. Dengan hasil itu diharapkan UKM lain dapat termotivasi untuk membuat alat serupa dalam rangka menjaga keberlangsungan proses produksi, dan meningkatkan kualitas serta kapasitas produk untuk memenuhi kebutuhan pasar. (RedG)

Tinggalkan Komentar