Solo – Di bawah pohon rindang ditemani loudspeker yang tiada berhenti bersuara. Santoso (41) Warga Mranggen Manang Sukoharjo Jawa Tengah menabuh asa mengais rejeki. Profesinya adalah sebagai penyedia jasa tukar uang rusak. Ditemui saat berada di.kawasan Pasar Bekonang Sabtu (07/09) ia mengaku sudah melakoni profesinya itu sejak tahun 2005 silam.

Berbekal pengalamannya sebagai pedagang asongan, ia meniti jalan penghidupan lain. Berburu uang rusak yang ada di masyarakat.

” Membaca peluang seperti itu kiranya. Sejak Bank Indonesia membuka layanan tukar uang rusak, saya mencoba terjun langsung.” ujar Santoso.

Dia menambahkan jika tidak semua orang memiliki waktu untuk menukarkan uang rusaknya ke BI atau karena berbagai alasan lain. Santoso mengangap itu sebagai peluang yang bisa diambil sebagai pekerjaan.

Lapak jasanya adalah pasar-pasar yang ada di Soloraya. Mulai Pasar Wonogiri, Sukoharjo, Klaten, Karanganyar dan lainnya. Pasar mana yang akan dituju, Santoso akan memilihnya berdasarkan hari pasaran dalam kalender jawa.

Menjelang pulul 12 siang pasar biasanya mulai sepi, santosa lalu menlanjutkan berburu uang rusak berkeliling ke kampung-kampung dengan sepeda motornya. Suara khas loudspkearnya yang terpasang di motornya tersebut sudah sangat dikenali warga kampung.

” Awalnya hanya bermodal suara mulut saja hingga terkadang suaranya jadi serak. Setelah tahun kedua saya lengkapi dengan pengeras suara yang terhubung dengan alat perekam suara” terangnya sambil mengemasi beberapa uang rusak yang didapatnya dari warga.

Santoso bertutur tidak semua uang rusak bisa ditukarkan. Sebagaimana aturan dari Bank Indonessia fisik uang rusak harus menyisakan lebih dari 78% atau duapertiga bagian. Menurutnya aturan tersebut membuatnya harus lebih jeli menaksir fisik uang rusak tersebut untuk menghindari kerugian.

Setiap harinya ia bisa mengumpulkan uang rusak dari masyarakat antara 500 ribu hingga satu juta.

Dari sekian banyak uang rusak yang terkumpul, uang dengan nominal kecil banyak banyak. Kerusakan meliputi lusuh, robek, terpotong, terbakar,.hingga dimakan rayap atau ngengat.

Setiap uang yang rusak akan ditaksir tingkat kerusakannya. Uang dengan kerusakan ringan dia memberikan uang ganti 90 persen dari nilai nominalnya. Sedang uang dengan tingkat kerusakan berat sebesar 70 hingga 80 persen.

Uang rusak yang terkumpul tersebut lalu akan ia rapikan terlebih dahulu. Mulai dari menata sesuai nominalnya. Uang yang robek akan dia isolasi. Jika nominalnya sudah mencapai lima hingga sepuluh juta baru akan dia tukarkan.

” Bisa satu minggu atau terkadang dua minggu sekali ke Bank Indonesia. Tergantung dapatnya uang rusak ”. papar Santoso.

Beberapakali santoso menemukan uang palsu yang terselip diantara tumpukan uang rusak. Atau terkadang menemukan selembar uang dengan nomer seri yang berbeda dipermukaannya. Menghindari terulang, ia makin jeli dan teliti ketika menerima uang rusak.

Selain menerima jasa uang rusak, santoso juga melayani jasa tukar uang luar negeri. Paling sering adalah mata uang dari asia seperti dari Malaysia, philipina, Cina, Jepang, Arab Saudi dan beberapa negara lainnya. Santosa kemudian akan mengencek terlebih dahulu nilai kurs mata uang tersebut melalui internet di handphonenya. Baru memberikan nilai tukar mata uangnya. Jika sepakat transaksi terjadi.

Dari profesi yang di jalaninya tersebut minim setiap bulannya ia bisa mengantongi keuntungan kotor di kisaran lima juta rupiah.

Banyaknya temuan uang rusak yang sampai padanya tersebut santoso berharap kepada masyarakat luas untuk lebih mencintai rupiah dengan merawatnya. Jika sudah terlanjur parah kerusakannya maka uang tidak bisa ditukarkan lagi.

” Jika memiliki uang banyak lebih baik di Tabung saja di Bank, jangan biasakan uang disteples atau dilipat lipat” Terang santoso. (RedG/Yusuf C)

Tinggalkan Balasan