Solo – Kearifan lokal ternyata masih terjaga apik dijaman yang serba modern ini, jaman tidak lantas mengambil semua yang usang. Geliat itu justru mengukuhkan bahwa tradisi leluhur masih digemari dan dicari. Seperti kedai jamu cekok bayi milik Cristiani di Wonosaren Jagalan Solo Jawa Tengah ini. Kedai jamu yang persis berada di pinggir jalan selalu riuh pelanggan, Rabu pagi (28/08).

Di bantu oleh tiga karyawannya, Cristiani dengan sabar dan telaten menggarap setiap bayi yang datang. Menimang bayi lalu diposisikan terlentang untuk proses meminumkan jamu.

Sebelum proses tersebut berlangsung ia akan terlebih dahulu membuat bayi merasa nyaman. Lantas dengan sedikit pemijatan di dahi ia tak lupa membacakan doa.
Pelanggan yang ingin mendapatkan jamu cekok cukup membawa sapu tangan sendiri dari rumah untuk digunakan sebagai media perasan ramuan jamu.
Menurut penuturan  Cristiani usaha tersebut merupakan warisan dari kedua orang tuanya.

” Iya meneruskan usaha yang dirintis oleh orang tua” tutur Cristin.

Lebih lanjut ia menambahkan jika untuk layanan jamu cekok bayi hanya sekali dalam seminggunya, yakni di hari rabu pagi mulai jam lima hingga setengah sembilan. Untuk usia bayi sendiri harus.sudah lebih dari dua bulan. Di lain hari kedainya melayani jamu untuk orang dewasa.
Istilah jamu cekok sendiri berangkat dari bagaimana jamu tersebut diminumkan pada bayi. Butuh teknik khusus untuk meminumkan ramuan jamu ke bayi agar tidak tersedak.

” Kalau bayi masih mau minum jamu cukup menggunakan sendok, jika sudah sulit menerimanya cara meminumkannya yakni dengan sapu tangan.” terang Cristiani.

Tak jarang usai diminumkan jamu anak kemudian muntah. Namun itu malah bagus karena bersama muntahan tersebut lendir dahaknya ikut keluar, tambah Cristiani.
Cara meminumkan yang tak biasa terbukti efektif dari penolakan bayi seperti dimuntahkan atau disemburkan. Perasan jamu yang tersaring dalam sapu tangan yang dijejalkan ke mulut tersebut akan masuk ke kerongkongan bayi.

Cara meminumkan jamu yang terkesan memaksa tersebutlah yang kemudian dikenal sebagai jamu cekok.
Untuk racikan jamu cekok milik Cristini sendiri terbuat dari limapuluhan bahan campuran. Mulai dari rempah tradisonal, dedaunan seperti daun pepaya, daun sembukan, daun kapulaga, cengkih dan bahan lainnya. Untuk menambah stamina setiap jamunya selalu ia tambahkan kuning telur dalam racikannya. Untuk bahannya sendiri ia dapatkan dari Pasar Gede dan beberapa pasar tradisional di sekitarnya. Namun ada juga bahan tertentu yang ia peroleh dari setoran lainnya. Selama ini kedai jamu cekok miliknya cukup efektif untuk menyembuhkan sakit batuk pilek dan menambah nafsu makan pada bayi.

Sementara menurut pengakuan orang tua bayi bernama Andi (37) Warga perumahan Fajar Indah Solo, sejak mengenal jamu cekok anaknya lebih sehat. ‘

‘ Sejak usia satu setengah tahun rutin kesini. Alhamdulillah jika batu pilek cepat reda karena dahak bisa keluar, juga nafsu makan anak jadi meningkat” Ucap andi

Untuk pelanggan Kedai jamu cekoknya berasal dari berbagai kota di sekitar solo seperti sragen, karanganyar, sukoharjo bahkan ada yang berasal dari jogjakarta.
Tak kurang dari seratus bayi mengantri jamu cekok  Cristiani setiap hari rabunya. Itu berarti kedai jamunya menghabiskan seratus kuning telur dalam racikan jamunya. Untuk ongkos jamunya cukup murah meriah. Hanya dua puluh ribu untuk setiap jamu cekok yang diberikannya.

Di usianya yang tak lagi muda Cristiani berharap usaha kedai jamunya bisa diteruskan oleh anaknya kelak. Berharap warisan leluhur yang terbukti mujarab dan menyehatkan tersebut di era modernitas ini bisa eksis mendampingi pengobatan medis.(RedG/Yusuf C)

Tinggalkan Balasan